Jumat, 23 September 2011

GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menuanya organ tubuh tak lebih dari sebuah proses alamiah. Namun, "sangat sulit membedakan antara penuaan normal yang tidak bisa dicegah dengan kerusakan organ akibat penuaan yang sebenarnya dapat dicegah, Dari seluruh penyakit yang mendera manusia, penyakit kardiovaskular menempati urutan paling atas. Kerusakan akibat penuaan biasanya akan mengalami dua macam interaksi, yang berasal dari penuaan itu sendiri atau proses patologis yang mengikuti penyakit jantung tersebut. Kelompok ini pun sering mengalami kelainan klinis akibat komorbiditas serta polifarmasi.
Penyakit jantung merupakan penyakit yang mematikan. Di seluruh dunia, jumlah penderita penyakit ini terus bertambah. Ketiga kategori penyakit ini tidak lepas dari gaya hidup yang kurang sehat yang banyak dilakukan seiring dengan berubahnya pola hidup. Angka harapan hidup yang semakin meningkat ditambah peningkatan golongan usia tua semakin memperbesar jumlah penderita penyakit jantung yang sebagian besar diderita oleh orang tua. (Wikipedia, 2008)
Sekitar 83 persen penderita gagal jantung merupakan lansia. Gagal jantung diastolik merupakan masalah utama disfungsi pendarahan pada orang gaek. Dari para lansia berusia di atas 80 tahun yang menderita gagal jantung, 70 persen di antaranya memiliki fungsi sistolik yang normal. Sedangkan para penderita gagal jantung yang berusia di bawah 60 tahun hanya kurang dari 10 persen yang fungsi sistoliknya masih bagus. Artinya, sebagian besar penderita lansia tidak memiliki kelainan pada fungsi sistolik, namun mengalami kelainan diastole. Sementara itu, hampir 75 persen pasien geriatri menderita gagal jantung, hipertensi dan atau penyakit arteri koroner. Sedangkan para lansia penderita gagal jantung diastolik akan mengalami gagal jantung dekompensasi karena biasanya tekanan darahnya relatif tinggi dan tidak terkontrol. Selain itu, sulit membedakan secara klinis antara gagal jantung diastol atau sistol karena keduanya sering bercampur pada orang tua. Gejala yang mendadak merupakan tanda umum gagal jantung akibat kelainan fungsi diastol.
Gejala dan tanda gagal jantung akibat penuaan relatif sama pada gagal jantung orang muda, namun biasanya gejala klinis dan keluhan utama pasien tua seringkali berbeda dan sangat tersembunyi. Biasanya pasien tidak sadar dengan penyakitnya, yang dia alami ialah sebuah perasaan yang tidak berharga, tidak berguna, dan relatif menerima keadaan apa adanya seiring dengan bertambahnya usia. Namun biasanya, karena gagal jantung orang tua cenderung berupa kegagalan diastol, maka gejalanya akan timbul tiba – tiba dan membuat orang tua jadi uring – uringan.



BAB II
PEMBAHASAN
GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER


  1. Infeksi Mononulkeose


Infeksi mononukleose adalah inflasi akut jaringan limpa pada usia dewasa muda 15 sampai dengan 25 tahun. Inveksi disebabkan virus Epspein-Barr, yang dapat ditularkan melalui kontak mulut misalnya selama berciuman. Periode inkubasi antara 2 sampai 6 minggu. Selama periode prodromal 3 sampai 5 hari pasien sudah mempunyai gejala- gejala non spesifik yaitu kelelahan, anoreksia atau malaise. Rasa sakit berakhir pada 7 sampai 20 hari dan pasien akan mendapatkan peradangan pada tenggorokan, sakit kepala, demam, mengigil, diaphoresis dan malaise. Selama periode konvalensi 2 sampai 6 minggu, pasien mungkin tetap lemah dan merasa lelah. Sifat penyakit merupakan serangan akut dan terbatas. Selama terjadi infeksi, limpa nodi dan lien mengeluarkan limposit yang berlebihan, dan hati terpengaruh oleh prolifirasi limpatik. Dan Pengobatan untuk infeksi mononukleose bersifat simtomatik. Selama periode akut, pasien istirahat tirah baring. Biasanya tidak memerlukan tindakan isolasi, walaupun mungkin pasien dapat menularkan penyakit selama periode konvalensi. Untuk mengatasi gejala-gejala yang timbul, pasien diberikan analgetika, antipiretika dan antibiotic.



  1. Perikarditis


Perikarditis merupakan suatu inflamasi pada perikodium yang dapat terjadi secara akut maupun kronis. Peradangan/inflamasi dapat disebabkan oleh berbagai virus maupun bakteri, penyakit neoplasma, trauma pembedahan, atau myocardialinfarction. Peradangan akut terjadi pada pericardium dan dapat menyebabkan akumulasi cairan pada kantung pericardial (effuse pericardial). Apabila peradangan menjadi kronis, membrane pericardial menjadi tebal dan menyebabkan jaringan parut, dan menyebabkan gerakan systole dan diastole terhambat (konstriksi pericarditis). Pericarditis merupakan penyakit pada usia muda. Individu dengan ketahanan terhadap infeksi rendah atau mempunyai riwayat terserang infeksi, mempunyai resiko terjadinya pericarditis. Gejala-gejala penyakit berhubungan dengan konstriksi dari rongga pericardial. Pada pericarditis akut, bunyi gesekan pericardial, dapat didengar dengan steteskop. Dapat pula dijumpai adanya nyeri dada dan distritmia. Bila rongga pericardial berisi cairan maka jantung akan tertekan (temponed jantung) yang menyebabkan takikardi, hipotensi, penurunan cardiac output dan shock. Bila rongga pericardial dihambat oleh jaringan parut, dapat timbul tanda-tanda gagal jantung. Dari pemeriksaan rontgen dada akan didapatkan adanya pembesaran jantung. Dari pemeriksaan rontgen dada akan didapatkan adanya pembesaran jantung dan diagnose sulit ditegakkan karena gejala yang Nampak sama dengan penyakit jantung yang lain. Tujuan terapi adalah menangani peradangan dan membebaskan cairan atau konstriksi pada pericardium. Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika dan pericardial tap (pericardiocentris) dilakukan untuk mengeluarkan cairan atau mungkin juga dilakukan pericardectomy untuk menghilangkan jaringan parut. Untuk mengatasi distritmia diberikan digitalis dan bila terjadi kegagalan jantung maka akan diperlukan tindakan-tindakan khusus.

  1. Myocarditis

Myocarditis adalah peradangan pada myocardium yang dapat disebabkan oleh virus atau infeksi bakteri, reaksi hipersensitifitas, atau terjadi dengan endocarditis atau pericarditis. Gejala penyakit bersifat non spesifik antara lain menggigil, demam, anoreksia, nyeri dada, dispnea dan disritme. Bila terjadi efusi pericardial akibat pericarditis maka dapat menimbulkan bahaya terjadinya tamponed pericardial (kompresi). Tindakan terapeutik menggunakan antibiotic dan tirah baring. Steroid digunakan untuk keadaan peradangan akut, sedangkan digitalis untuk mengatasi disritme atau kegagalan jantung.

4. Endokarditis

Infeksi endokarditis merupakan peradangan endokardium atau katup-katup jantung. Penyakit ini diklasifikasikan berdasarkan keganasan dan penyebab yaitu endokarditis bakterial akut dan endokarditis bakterial subakut. Infeksi bacterial akut disebakan oleh staphylococcus aureus, sedangkan subakut biasanya disebabkan oleh streptococusviriden atau staphylococcus aureus (jarang). Kedua penyakit ini dapat sebagai kelanjutan dari demam reumatik, syphilis atau penyakit jantung kongenital. Endokarditis bacterial merupakan penyakit pada usia muda dan dewasa pertengahan. Resiko terhadap penyakit ini meningkat bila ada kontak dengan infeksi, misalnya melalui tindakan pembedahan, pencabutan gigi atau pembedahan genitourinaria. Propilaktis dengan antibiotika (penicidilin) diberikan sebelum tindakan pembedahan sebagai tindakan pencegahan. Resiko terhadap endokarditis, juga meningkat pada penderita demam reumatik. Tindakan pemebedahan jantung terbuka untuk memperbaiki katup jantung atau memasukkan anomary artery by pass grafts, mempunyai insiden yang meningkat. Beberapa ahli yakin bahwa ada sekitar 1% pasien yang dilakukan pembedahan jantung mengalami endokarditis pada post operasi. Proses inflamasi menyebabkan klasifikasi dan jaringan parut pada katup-katup dan endokardium dapat mengakibatkan insufisiensi valvular atau stenosis. Serangan endokarditis bacterial akut yang tiba-tiba dan ditandai dengan demam tinggi, menggigil, diaporensis, leukositosis, dan murmur jantung. Emboli mungkin dilepaskan bila fragmen-fragmen infeksi pada katup menjadi rusak dan berjalan ke otak menyebabkan kematian/stroke, atau ke ginjal menyebabkan gagal ginjal. Dalam beberapa hari berikutnya dapat terjadi gagal jantung bila katup-katup tidak berfungsi. Serangan endokarditis bacterial sub-akut dengan tanda-tanda yang nampak adalah: malaise, demam, menggigil, perspirasi, nyeri pada persendian dan petechiae. Diagnose ditegakkan dengan kultur darah. Antibitik diberikan untuk mengatasi infeksi. Pasien perlu dirawat dan istirahat total selama 2 sampai 6 minggu sampai infeksi teratasi. Untuk menurunkan demam, diberikan antibiotika piretika. Bila terjadi gagal jantung atau kerusakan ginjal maka harus dilakukan pemeriksaan diagnostic lebih lanjut. Beritahu aktifitas yang sesuai untuk pasien. Diet harus mempunyai nilai gizi yang cukup, dan aktivitas serta istirahat harus seimbang.

  1. Borok varises


Borok varises dapat berkembang lebih dalam di sekeliling varises menjadi vena yang statis dan kekurangan oksigen pada sel-sel. Borok tersebut dapat di obati dengan
pembersihan yang teratur dengan merendam basah dan kering, pembalutan dengan karaya atau debridement dengan enzim streptokinase, streptodonase (varidase) atau fibrinolisyn-desocyribonuclease (elase). Borok yang lebih besar dapat diobati dengan penekanan verban atau pengobatan sebagai pelindung pasteboots seperti unnas’boots. Pencangkokan kulit mungkin dicoba jika pengobatan secara konservatif tidak dapat menyebabkan kesembuhan.
  1. Cardiac syphilis


Cardiac syphilis merupakan manifestasi dari syphilis pada tahap ketiga. Fase ini biasanya terjadi 15 sampai 30 tahun setelah infeksi. Katub aorta dan aorta merupakan bagian yang sering terkena akibat terbentuknya plaque dan jaringan parut. Aorta mungkin mengalami infeksi, menyebabkan artitis, dan bila bagian media terkena, mungkin terjadi anurisme aortic dan ini dapat menyebabkan insufisiensi aortic. Komplikasi ini dapat dicegah dengan penegakkan awal adanya penyakit serta pengobatan syphilis secara dini. Penanganan lebih lanjut adalah dengan pembedahan.


7. Thrombophlebitis

a. Pengertian
Thrombophlebitis merupakan suatu peradangan pada vena. Istilah thrombosis vena lebih sering diartikan sebagai suatu keadaan penggumpalan darah yang terbentuk didalam pembuluh darah, sedangkan thrombophlebitis diartikan sebagai inflamasi yang disertai dengan pembentukan thrombus. Plebothrombosis adalah thrombus yang merupakan faktor yang mempermudah terjadinya inflamasi. Orang-orang yang merupakan golongan risiko adalah para wanita yang memakai kontrasepsi oral. Faktor-faktor lain adalah pada beberapa pembedahan dan trauma.

b. Patofisiologi
Formasi thrombus merupakan akibat dari statis vena, gangguan koagulabilitas darah atau kerusakan pembuluh maupun endothelial. Statis vena lazim dialami oleh orang-orang yang imobilitas maupun yang istirahat ditempat tidur dengan gerakan otot yang tidak memadai untuk mendorong aliran darah. Statis vena juga mudah terjadi pada orang yang berdiri terlalu lama, duduk dengan lutut atau paha di tekuk, berpakaian ketat, obesitas, tumor maupun wanita hamil. Hiperkoagulabilitas darah yang menyertai trauma, kelahiran dan myocardial infark juga mempermudah terjadinya thrombosis. Infuse intravena, konulasi atau beberapa penyakit buerger juga dapat menyokong thrombus.



c. Pengkajian
Perawat perlu mengkaji terhadap masalah yang mungkin timbul akibat statis vena terutama pada pasien sehabis pembedahan atau dalam keadaan imobilisasi. Tanda- tanda dan symptom tergantung pada lokasi vena yang terkena. Thrombophlebitis pada vena superficial ditandai dengan vena yang kemerah-merahan, panas, nyeri tekan dan serba keras. Biasanya disertai dengan demam.
Thrombophlebitis pada vena yang lebih dalam pada kaki ditandai dengan edema, bengkak, nyeri, kemerah- merahan dan panas. Diagnose ditegakkan berdasarkan tanda/riwayat klinis, venoggraphy, ultrasound, Doppler flow study atau plethysmography.

d. Diagnose keperawatan.
Analisa data dapat menyatakan diagnosa perawatan actual maupun potensial yaitu perubahan cardiac output, perubahan rasa nyaman karena nyeri, perubahan perfusi jaringan, perubahan volume cairan, gangguan pertukaran gas.

e. Perencanaan dan pelaksanaan
Rencana dikembangkan untuk mencegah pembentukan thrombus, perawat dan pasien membuat rencana pada waktu preoperasi untuk mencegah gangguan akibat statis dan imobilitas. Ini meliputi latihan aktif dan pasif, pemakaian stocking, ambulasi secara dini jika memungkinkan. Dalam hal ini, lutut dicegah supaya tidak menekuk. Penbentukan thrombus dapat dicegah dengan pemberian heparin dosis rendah (5000iu) tiap 8 jam selama 7 hari. Terapi heparin dosis rendah merupakan kontraindikasi sesudah operasi tulang atau pinggul, prostatectomy abdominal, atau pembedahan otak. Heparin dapat diberikan secara subkutan pada jaringan lemak dinding abdomen bagian bawah atau diatas Krista iliaca. Perawat dianjurkan tidak melakukan aspirasi saat memberikan heparin, karena dapat menyebabkan hematoma. Untuk mengurangu rasa nyeri, maka diberikan analgetika. Aspirin atau obat-obatan yang mengandung aspirin biasanya tidak diberikan, karena berpengaruh terhadap platelet dan dosis heparin. Tirah baring dapat mengurangi nyeri, tetapi selama tirah baring perawat harus membantu pasien merubah posisi dan memberikan tindakan- tindakan untuk memenuhi rasa nyaman pasien.

  1. Valvular Heart Disease


Valvula heart disease merupakan penyebab dari stenosis atau insufisiensi katu-katup jantung. Stenosis terjadi bila terjadi fibrose, klasifikasi ataupun gangguan katup. Tekanan pada layar yang terkena meningkat karena adanya resistensi stenosis katup. Dengan adanya peningkatan tekanan, maka beban kerja myocardium meningkat dan
mungkin terjadi disritmia, kegagalan jantung atau kardiogenik shock. Valvular heart disease biasanya merupakan akibat dari infeksi jantung, seperti demam reumatik, kardiak syphilis atau congenital. Sumbatan ini biasanya mempunyai serangan yang lambat dan terjadi pada orang tua yang menderita infeksi jantung pada masa anak-anak. Diagnose ditegakkan berdasarkan riwayat kesehatan, phonocardiography electrocardiography dan kateterisasi jantung.







DAFTAR PUSTAKA


Doengoes, Marilyn C, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3 Jakarta: EGC, 1999

Hudak, Gallo, Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik, Edisi IV, Jakarta, EGC: 1997

Price, Sylvia, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit, Edisi 4, Jakarta: EGC, 1999

Smeltzer, Bare, Buku Ajar keperawatan Medical Bedah, Bruner & Suddart, Edisi 8, Jakarta, EGC, 2001

Angela, et.al, 1996. Essentials of gerontological nursing, adaptation to the aging process, JB Lipincott, comp.
Annete, GL. 1996. Gerontological nursing, Mosby year Book, St, Louis Miss.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar