Jumat, 23 September 2011

MODEL KONSEPTUAL DAN TEORI KEPERAWATAN DALAM ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN

 
Keberhasilan seorang perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan ditentukan oleh kemampuannya dalam mensintesa dan mengaplikasikan berbagai ilmu, konsep dan teori ke dalam bentuk asuhan keperawatan. Bentuk asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien dipengaruhi oleh model keperawatan yang dipilihnya. Model keperawatan memberikan arah kepada perawat dalam menyelesaikan masalah kesehatan klien. Pendekatan proses keperawatan digunakan sebagai metodologi pemecahan masalah secara ilmiah yang mencirikan keperawatan yang diberikan adalah keperawatan yang bersifat profesional.
Manfaat penerapan model konseptual dan teori-teori keperawatan dalam praktek keperawatan adalah menolong perawat memahami perilaku keperawatan dan perilaku klien serta membantu perawat memperkirakan kebutuhan klien dan perilaku yang diharapkan (Sherwen, Scoloveno & Weingarten, 1999).
Model Konseptual Adaptasi Roy
Berdasarkan model konseptual Adaptasi Roy, manusia dipandang sebagai sistem adaptif yang mempunyai kemampuan berespon terhadap stimulus apapun, baik yang berasal dari lingkungan internal mapun eksternal untuk mencapai kondisi sehat yang optimal (Roy, 1991; Aligood & Tomey, 2002). Rentang respon seseorang sangat unik, tingkat adaptasi seseorang berubah secara konstan. Respon perilaku ditampakkan dapat berupa perilaku adaptif atau perilaku tidak efektif.

Perilaku adaptif merupakan respon perilaku yang dapat meningkatkan integritas seseorang yaitu mampu untuk mencapai tujuan dalam bertahan hidup, tumbuh, bereproduksi dan memiliki keunggulan. Sedangkan perilaku yang tidak efektif adalah respon perilaku yang tidak mendukung tujuan tersebut.

Roy (1991) mengklasifikasikan stimulus ke dalam tiga kategori yaitu stimulus fokal, kentekstual dan residual. Stimulus fokal yaitu stimulus yang langsung menyebabkan terjadinya gangguan. Stimulus kontekstual yaitu stimulus yang mempengaruhi terjadinya stimulus fokal. Stimulus residual yaitu stimulus yang mempengaruhi terjadinya stimulus fokal dan kontekstual.

Stimulus fokal, kontekstual dan residual merupakan stressor yang mempengaruhi tingkat adaptasi. Kemampuan adaptasi dipengaruhi oleh mekanisme koping. Mekanisme koping merupakan mekanisme regulator (kimia, neural atau endokrin) dan kognator (persepsi atau proses informasi, pernyataan dan emosi) yang bekerja bersama-sama untuk mempertahankan integritas seseorang. Sebagai hasil dari respon mekanisme regulator dan kognator, Roy mengidentifikasi empat cara adaptasi sebagai mekanisme koping yaitu fisiologik, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi.

Secara jelas teori Adaptasi dari Roy dapat digambarkan dalam skema berikut ini :
Skema   3.2  Sistem Adaptasi Roy
Stimulus :
1. Fokal
2. Kontekstual
3. Residual
Mekanisme koping :
o Regulator
o Kognator
1. Fisiologi
2. Konsep diri
3. Fungsi peran
4. Interdependensi
Respon adaptif

Input                                          Proses                                           Efektor                                          Output
Respon tidak efektif

                                                                    Feedback
                   
Sumber : Tomey & Aligood, 1998

Aplikasi model adaptasi Roy dalam proses keperawatan meliputi pengkajian perilaku, pengkajian stimulus, diagnosis keperawatan, penetapan tujuan, intervensi dan evaluasi

Model Konseptual Self Care Orem
Orem (2001) menjelaskan teori self care adalah suatu kondisi yang membutuhkan bantuan perawat. Pada orang dewasa terlihat dengan tidak adanya kemampuan menjaga kualitas dan kuantitas self care yang terapeutik secara terus menerus dalam mempertahankan kehidupan dan kesehatan, kesembuhan dari penyakit atau koping dari efek penyakitnya.
Tujuan dari penerapan model konseptual Orem adalah membantu klien memenuhi kebutuhan self care. Menurut Orem, keperawatan dibutuhkan ketika klien tidak dapat memenuhi kebutuhan biologi, psikologi, perkembangan dan kebutuhan sosial. Perawat menentukan mengapa klien tidak dapat memenuhi kebutuhannya, apa yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan klien dan seberapa banyak self care dapat dilaksanakan. Tujuan akhir dari keperawatan adalah meningkatkan kemampuan klien untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhannya (Potter & Perry, 1997).

Beberapa konsep sentral dari Teori Self Care Orem adalah : self care, self care agency,  Therapeutik self care demand, self care agency, self care deficit dan nursing agency. Therapeutik self care demand adalah kebutuhan individu sesuai kondisinya, dimana individu akan berusaha melakukan sesuatu sesuai kemampuan dalam memenuhi kebutuhan akan self care. Sedangkan self care agency adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam kondisi normal untuk melakukan perawatan mandiri. Self care deficit adalah berkurangnya kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan self care sehingga dibutuhkan nursing agency. Nursing agency adalah upaya yang dilakukan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan individu tersebut  yang dapat dilakukan dengan cara mengenal kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dan melatih kemampuan klien (Tomey & Aligood, 1998; Horan, 2004).

Berikut ini akan digambarkan hubungan berbagai konsep dalam model konseptual Self Care Orem.
Skema  3.3  Hubungan Konsep Self Care Orem
Self care Agency
Self Care Demands
Deficit
Nursing Agency

Self Care
Self care Agency
Self Care Demands
Deficit
Nursing Agency

Self Care


Conditioning                             R                                 R                           Conditioning
Factor                                                          R                                                Factor


                                                  R                                R


Conditoning
Factor

Sumber : Tomey & Aligood, 1998






Teori Hubungan Interpersonal Peplau
   Proses interpersonal merupakan komponen sentral dari teori Peplau, dimana perawat akan memfasilitasi klien dalam hubungan di antara keduanya yang bersifat terapeutik dengan tujuan kepentingan kesehatan klien (Hrabe, 2005).

Klien dalam komponen sentral menurut Peplau diartikan sebagai seseorang yang menunjukkan kondisi sakit dan kecemasan. Kecemasan diindikasikan melalui gangguan komunikasi dan ketidakmampuan klien untuk belajar dan berfungsi secara efektif. Ada hubungan langsung antara kecemasan dan kesakitan. Dalam kondisi sakit, energi dari kecemasan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan akan berpindah menjadi gejala tidak sehat seperti sakit kepala, demam yang tidak diketahui penyebabnya (Fitzpatrick & Whall, 1989).

Tujuan tindakan keperawatan adalah mengkaji tingkat kecemasan klien dengan mencari jalan keluar melalui komunikasi perawat dan klien, mempengaruhi kemampuan klien untuk belajar dan mempertahankan pola tingkah laku yang sehat dan melaksanakan strategi untuk mempengaruhi tingkat kecemasan yang efektif, perawat memfasilitasi kemampuan klien untuk mengembalikan energi yang berpindah tersebut menjadi penyelesaian masalah (Fitzpatrick & Whall, 1989; Tomey & Aligood, 1998; Hrabe, 2005).

Upaya tersebut dilakukan melalui hubungan interpersonal perawat-klien dengan menerapkan enam peran perawat yaitu 1) Sebagai orang asing (stranger) yang menerima klien apa adanya dan menunjukkan adanya perhatian dan ketertarikan yang positif pada klien; 2) Nara sumber (resource) yang memberikan jawaban yang spesifik terhadap semua pertanyaan klien; 3)Guru (teacher) yang merupakan kombinasi dari semua peran perawat, 4) Pemimpin (leadership) yang mengarahkan hubungan yang demokratis dan peningkatan partisipasi klien; 5)Wali (surrogate) penengah terhadap konflik yang dihadapi klien dan  6) Penasihat (couselor) yang menjelaskan cara penyelesaian masalah dan menyadarkan klien akan kondisi-kondisi yang memerlukan bantuan  (Fitzpatrick & Whall, 1989; Tomey & Aligood, 1998; Hrabe, 2005)
   Untuk mewujudkan keadaan yang konstruktif dan produktif, Peplau membagi proses interpersonal atas empat fase.
a.       Fase orientasi  
Pada fase orientasi perawat dan klien bertemu sebagai individu yang belum saling mengenal. Pertemuan ini diprakarsai oleh klien dengan menunjukkan ekspresi kebutuhan. Perawat membimbing klien agar memahami masalah dan tingkat kebutuhannya untuk mendapatkan bantuan Pada fase ini, perawat akan melakukan pengkajian data. Pada klien hiperemesis gravidarum akan ditemukan data bahwa klien mengalami mual dan muntah sehingga nafsu makan menurun. Hal tersebut dapat menimbulkan kecemasan bagi klien tentang akibat mual dan muntah terhadap kondisi janinnya. Diagnosis keperawatan yang ditegakkan sesuai dengan hasil pengkajian data berdasarkan Teori Peplau adalah kecemasan dan ketakutan berhubungan terhadap efek hiperemesis terhadap kesejahteraan janin berhubungan dengan kurang pengetahuan.



b.  Fase identifikasi
Fase identifikasi dari hubungan interpersonal Peplau, perawat akan merumuskan tujuan keperawatan dengan menggali secara aktif masukan-masukan dari klien sehingga klien merasa dilibatkan dan merasa bagian dari penyusun rencana. Peplau menekankan bahwa perawat harus mengembangkan hubungan terapeutik sehingga kecemasan klien dapat diatasi secara konstruktif dengan berprilaku caring. Pada klien dengan hiperemesis gravidarum, perencanaan yang dibuat untuk mengatasi kecemasan klien sehingga klien menjadi lebih tenang dan lebih konstruktif.
         c.   Fase Eksploitasi
Fase eksploitasi dari hubungan interpersonal Peplau, klien adalah pihak yang secara aktif mencari berbagai bantuan pelayanan kesehatan untuk mendapatkan manfaat yang maksimal. Pada perawatan klien hiperemesis gravidarum diharapkan klien lebih banyak berperan untuk menolong dirinya sendiri agar tercapai keadaan produktif untuk keselamatan ibu dan janinnya. Perawat memfasilitasi dengan menerapkan hubungan interpersonal yang terapeutik.
Adapun implementasi keperawatan yang dilakukan pada fase eksploitasi ini adalah membina hubungan saling percaya yang merupakan dasar dari keberhasilan tindakan menurut Peplau, menciptakan lingkungan yang dapat menurunkan kecemasan klien, memberikan informasi yang dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya, membantu terhadap pemenuhan kebutuhan klien (fisiologis dan psikologis) dan mengajak klien untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan kemampuan. Dukungan psikologis yang diberikan perawat dengan menunjukkan sikap yang memahami dan empati terhadap masalah yang dihadapi klien. Sikap yang tenang dan menerima dapat memfasilitasi perawat untuk menyampaikan secara verbal konflik psikologis yang tengah dihadapi berkaitan dengan permasalahan dalam keluarga, pembiayaan/pendapatan dan masalah sosial lainnya yang memicu klien mengalami mual dan muntah.
           d. Fase Resolusi
Fase resolusi pada hubungan interpersonal Peplau terjadi setelah fase-fase sebelumnya sukses dan kebutuhan klien terpenuhi. Evaluasi merupakan faktor intern untuk menentukan apakah klien siap menerima fase resolusi atau tidak. Dalam evaluasi ini, jika situasi jelas mendukung bahwa masalah telah terselesaikan maka fase resoluisi atau terminasi kan terjadi. Harapan yang diinginkan oleh perawat dan klien adalah berkurangnya kecemasan klien tentang pengaruh hiperemesis gravidarum terhadap kondisi janinnya. 

5. Teori Transkultural Leininger
Keperawatan transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada analisis dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya (Leininger, 1978). Keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis yang difokuskan pada perilaku individu atau kelompok, serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat dan perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya (Leininger, 1978). Pelayanan keperawatan transkultural diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya.
Dalam memberikan asuhan keperawatan transkultural, perawat perlu memahami landasan teori dan praktik keperawatan. Keberhasilan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan sangat tergantung pada kemampuannya mensintesis berbagai ilmu dan mengaplikasikannya ke dalam bentuk asuhan keperawatan yang sesuai latar belakang budaya klien (Andrew & Boyle, 1995).

Pengkajian dilakukan terhadap respon adaptif dan maladaptif untuk memenuhi kebutuhan dasar yang tepat sesuai dengan latar belakang budayanya. Pengkajian  dirancang  berdasarkan tujuh komponen yang ada pada “ Leininger’s Sunrise models” dalam teori keperawatan transkultural Leininger (Giger & Davidhizar, 1995 ; Andrew & Boyle, 1995) yaitu : 1) Faktor teknologi; 2) Faktor Agama dan Falsafah Hidup; 3) Faktor sosial dan keterikatan kekeluargaan; 4) Faktor nilai-nilai budaya dan gaya hidup; 5) Faktor kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku; 6) Faktor ekonomi; 7) Faktor pendidikan.

Diagnosis keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat dicegah, dirubah, atau dikurangi melalui intervensi keperawatan (Giger & Davidhizar, 1995; Andrew & Boyle, 1995). Respon klien yang ditegakkan oleh perawat dengan cara mengidentifikasi budaya yang mendukung kesehatan, budaya yang menurut klien pantang untuk dilanggar, dan budaya yang bertentangan dengan kesehatannya.

Perencanaan dan implementasi adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan melaksanakan tindakan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger & Davidhizar, 1995; Andrew & Boyle, 1995). Perencanaan dan implementasi keperawatan transkultural menawarkan tiga strategi sebagai pedoman Leininger (1984) ; Andrew & Boyle, 1995 yaitu : perlindungan/mempertahankan budaya (Cultural care preservation/maintenance) bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi/menegosiasi budaya (Cultural care accommodation/negotiations) apabila budaya klien kurang mendukung kesehatan dan mengubah dan mengganti budaya klien dan keluarganya (Cultural care repartening/recontruction).
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang  : mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, negosiasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya dan restrukturisasi budaya yang bertentangan dengan kesehatan. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan keinginan klien atau sesuai latar belakang budayanya.
Hiperememesis gravidarum
Tingkatan II
 




















APLIKASI MODEL KONSEPTUAL
DALAM ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN HIPEREMESIS GRAVIDARUM


Aplikasi konsep keperawatan maternitas yang berpusat pada keluarga, model konseptual Adaptasi Roy, Self Care Orem, teori Hubungan Interpersonal Peplau dan Transkultural Leininger ke dalam asuhan keperawatan pada klien hiperemesis gravidarum dengan pendekatan proses keperawatan dapat digambarkan sebagai berikut:
1.     Pengkajian
Berikut ini adalah hasil pengkajian yang didapatkan pada klien hiperemesis gravidarum dengan mengacu pada format pengkajian adaptasi Roy.
a.      Gambaran klien/Data Umum 
Ny M, 33 tahun, G2P1A0, Hamil 8 minggu, pekerjaan : karyawan pabrik, agama : Islam , pendidikan terakhir SMA, menikah pertama kali, suku : Jawa, bahasa sehari-hari yang digunakan : bahasa Jawa.

 Suami: Tn Rd, 34 tahun, pendidikan terakhir: SMA, pekerjaan: satpam, agama: Islam, suku: Jawa, pernikahan pertama kali, pengambil keputusan dalam keluarga: suami, bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Jawa. Anggota keluarga yang tinggal serumah : Ny M dan suami.

Klien datang ke RS pada tanggal 20 Oktober 2005 pukul 15.25 melalui IGD dengan keluhan mual dan muntah-muntah sejak 10 hari sebelum masuk rumah diserta keluhan air ludah banyak, pusing dan lemas serta nyeri di ulu hati terutama bila muntah. Klien sudah berobat ke dokter praktek dan diberikan obat anti muntah dan vitamin, namun tidak ada perubahan. Sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit klien merasakan muntah semakin menghebat, apapun yang dimakan dan diminum dimuntahkan kembali. Muntahan terdiri dari makanan dan minuman yang dimakan, bahkan terkadang terlihat kekuning-kuningan. Frekuensi muntah 5-6 kali dalam sehari. Bila mencium aroma masakan tertentu klien juga merasa mual dan ingin muntah seperti aroma bakso. Klien juga mengeluhkan sudah 3 hari tidak buang air besar dan buang air kecil lebih jarang dari biasanya.
b.      Pengkajian Tahap I
Menekankan pada perilaku klien saat dilakukan pengkajian yang terkait dengan tingkat adaptasi Ny M terhadap perubahan yang terjadi. Menurut Orem menggali adanya penyimpangan kesehatan dan masalah medik (health deviation self care), sedangkan menurut Leininger termasuk dalam pengkajian faktor nilai-nilai budaya dan gaya hidup, faktor agama dan falsafah hidup, faktor sosial dan keterikatan kekeluargaan serta faktor ekonomi.
1)      Adaptasi Fisiologi
Keadaan umum lemah, TD : 100/60 mmHg, Nadi 100 x/menit, suhu : 37,9oC , pernapasan 24 kali/menit. Cairan dan elektrolit: 10 hari sebelum masuk rumah sakit, klien mengalami penurunan dalam pemenuhan cairan. Minum sedikit, sekitar 1/4 -1/2  gelas (50-100 cc) setiap kali minum terdiri dari air putih dan teh hangat sebanyak 3-4 kali sehari. Menurut klien, terkadang cairan yang diminumpun menimbulkan mual dan dimuntahkan.Saat pengkajian, intake secara oral dibatasi, klien terpasang infuse dextrose 5% 20 tts/menit. Turgor kulit kemabli dalam waktu lebih dari 2 detik, kelopak mata cowong, mukosa bibir kering. Hasil laboratorium tanggal 21 Oktober 2005:  Hematokrit 34%(N: 40-48%), Na 128 mEq/L(N: 135-147 mEq/L), K 2.44 mEq/L (N: 3.5-5.0 mEq/L), Cl 96 mEq/L(N: 97-108 mEq/L).

Nutrisi: sejak 10 hari sebelum masuk rumah sakit, klien mengalami penurunan nafsu makan. Sebelum ada keluhan mual dan muntah klien makan 3 kali sehari dan terbiasa sarapan pagi sebelum bekerja karena peraturan di tempat kerja tidak memperbolehkan karyawan makan ataupun minum dari jam 8 (mulai bekerja) sampai jam istirahat (jam 12 siang). Berat badan sebelum hamil 50 kg, saat ini 45 kg, TB : 159 cm, lingkar lengan atas 23 cm. Abdomen : bising usus (+), distensi (-).

Eleminasi: sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit klien tidak pernah buang air besar, sebelumnya kebiasaan buang air besar 1 kali sehari pada pagi hari. Buang air kecil tidak mengalami kesulitan, namun klien merasakan frekuensi dan volume buang air kecil berkurang. Pemeriksaan lab : urin dan faeces tidak terkaji.

Aktifitas dan istirahat : sebelum bekerja klien menyiapkan keperluan suami di pagi hari. Jam setengah delapan berangkat kerja dan pulang jam 4 sore. Sampai di rumah beristirahat sebentar kemudian melanjutkan dengan memasak, mencuci pakaian  dan membersihkan rumah. Waktu luang (hari Sabtu dan Minggu) lebih senang berada di rumah dan nonton TV. Klien jarang mengikuti kegiatan di lingkungannya. Klien biasa tidur malam sekitar 7-8 jam sehari. Sejak mengalami mual dan muntah klien merasakan tidur malam berkurang dan siangpun tidak bisa tidur.

Sensori : klien mengeluhkan nyeri pada perut terutama setelah muntah.
Fungsi endokrin : Menarke usia 13 tahun, siklus 28 hari, teratur, lamanya 5-7 hari, banyaknya : ganti pembalut 3-4 kali sehari selama 2 hari pertama haid, tidak ada keluhan selama haid. Kehamilan sekarang adalah merupakan kehamilan kedua (G2P1A0), HPHT kehamilan sekarang tanggal 24 Agustus 2005, perkiraan partus tanggal 30 Mei 2006, usia kehamilan saat ini 8 minggu.

Kunjungan prenatal pertama kali saat terlambat 1 minggu di bidan dan berdasarkan hasil pemeriksaan, klien dinyatakan hamil. Sejak anak pertama berusia 3 bulan, klien menggunakan KB suntik secara teratur tiap 3 bulan. Tidak ada keluhan selama menggunakan KB suntik, namun klien sering merasa kerepotan setelah mulai bekerja dan harus pergi ke bidan untuk suntik. Hal ini menyebabkan sejak 2 bulan yang lalu klien dan suami sepakat untuk mencoba menggunakan pil.  Mammae membesar, kenyal, areola hitam, putting menonjol, kolostrum (-), fundus uteri belum teraba, DJJ belum terdengar dengan doppler. USG tanggal 21 Oktober 2005: uterus membesar, letak uterus antefleksi, cor (+), fetal echo (+) DJJ (+), gravid 8 minggu.
Disertakan juga pengkajian yang berkaitan dengan budaya menurut Leininger yaitu :  Bagaimana budaya klien yang mempengaruhi gaya hidup berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisiologis? Ny A melakukan puasa bulan ramadhan selama 3 hari sebelum mengalami mual dan muntah. Mengenai pemilihan jenis makanan yang bisa dikonsumsi klien didapatkan data: sejak masih muda klien menyukai makanan yang agak pedas. Jika makanan tidak terasa pedas nafsu makan akan berkurang.

2)      Konsep Diri
Sejak dinyatakan hamil dan bahkan sampai saat ini, klien masih sulit untuk menerima kehamilannya. Kehamilan ini menurut klien tidak direncanakan dan belum diinginkan oleh klien dan suami. Klien dan suami baru 1 tahun pindah ke kota untuk bekerja. “ Kami ingin mencari nafkah untuk keluarga terlebih dahulu, sehingga anak kami yang pertama untuk sementara kami titipkan di Jawa (di rumah orang tua) dengan maksud kami betul-betul bisa bekerja di Jakarta, nanti kalau sudah lebih mapan baru rencana membawa anak ke Jakarta” kata klien.

Selain berkaitan dengan pekerjaan, klien juga cemas memikirkan janin yang dikandungnya. Ada perasaan khawatir tentang bagaimana perkembangan janinnya dengan mual dan muntah yang dihadapi karena hal ini baru pertama kali dialami klien. Pada kehamilan sebelumnya klien tidak mengalami mual dan muntah yang menghebat, mual dan muntah yang dirasakan bersifat ringan, kalau sudah makan, maka mual akan hilang. Apalagi klien pernah minum jamu, takut jika bayi yang akan dilahirkan nanti akan mengalami kecacatan.

                  Dilengkapi juga pengkajian spiritual berkaitan dengan faktor agama dan falsafah hidup menurut Leininger tentang persepsi klien terhadap kesehatan dan cara beradaptasi terhadap situasinya saat ini, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan.

Ny M menyatakan kehamilan ini tidak direncanakan, klien pernah berusaha untuk menggugurkan kandungan dengan minum jamu. Namun karena merasa mual dan muntah, maka jamu yang sudah dibeli hanya diminum satu kali. Klien merasa sangat bersalah karena sudah berbuat dosa. Klien menganggap penyakit yang sekarang diderita adalah sebagai balasan atas apa yang telah dilakukan.

3)      Fungsi Peran
Sudah lebih dari satu minggu klien tidak bekerja karena sakit. Ada kekhawatiran klien akan diberhentikan dari pekerjaan karena peraturan sangat ketat, apalagi klien termasuk karyawan yang baru bekerja selama 8 bulan.

Disertakan juga pengkajian faktor ekonomi menurut Leininger yaitu berkaitan dengan daya emban secara ekonomi, sumber pembiayaan selama di rumah sakit. Menurut Ny M,  jika klien tidak bekerja maka akan terasa terbeban secara ekonomi, apalagi klien mengatakan bahwa untuk mempersiapkan kehamilan dan melahirkan butuh pembiayaan yang tidak sedikit, sementara rumah masih mengontrak dan klien harus setiap bulan mengirimkan uang untuk orang tua di kampung dan untuk biaya hidup anak. Pembiayaan selama di rumah sakit ditanggung oleh jamsostek.

4)      Interdependensi
Saat ini klien berada di Jakarta dengan suami, sementara keluarga terdekat seperti orang tua dan saudara berada di daerah. Klien tidak memiliki keluarga di Jakarta. Orang terdekat selain suami adalah teman kerja.

c.       Pengkajian Tahap II
Stimulus fokal : mual dan muntah-muntah sejak 10 hari sebelum masuk rumah sakit. Klien juga mengaku sudah 3 hari tidak buang air besar, bak lebih jarang dari biasanya. Keluhan lain yang juga dirasakan adalah air ludah banyak, pusing dan lemas serta nyeri di ulu hati terutama bila muntah.
Stimulus Kontekstual: bila mencium aroma masakan tertentu klien juga merasa mual dan ingin muntah seperti aroma bakso. Sejak dinyatakan hamil dan bahkan sampai saat ini, klien masih sulit untuk menerima kehamilannya. Kehamilan ini menurut klien tidak direncanakan dan belum diinginkan

Stimulus Residual : Ny M menderita penyakit gastritis sejak belum menikah (± 5 tahun yang lalu), namun tidak pernah sampai dirawat di rumah sakit. Riwayat kehamilan : anak pertama lahir pada tahun 2002 (usia 3 tahun) ditolong bidan di Jawa, lahir normal langsung menangis dengan berat badan 3200 gram, panjang badan 50 cm. Tidak ada penyulit saat melahirkan maupun pada masa nifas, tidak ada mual dan muntah yang berlebihan pada saat hamil seperti keluhan pada saat ini. Kondisi yang dialami sekarang merupakan pengalaman pertama bagi Ny M, sehingga merasa cemas terhadap keadaan janinnya.

2.     Merumuskan Diagnosis Keperawatan
Pada Ny M dapat diidentifikasi diagnosis keperawatan berdasarkan prioritas sebagai berikut :
a)  Adaptasi fisiologis  
(1) Kekurangan volume cairan pada ibu dan janin berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan melalui muntah dan  tidak adekuatnya intak cairan; (2) Perubahan nutrisi untuk ibu dan janin: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah yang menetap sekunder akibat hiperemesis; (3) Nyeri berhubungan dengan muntah yang terus menerus; (4) Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan dehidrasi; (5) Konstipasi berhubungan dengan tidak adekuatnya asupan nutrisi.

b)  Model Adaptasi Konsep Diri
(1)   Tidak efektifnya koping individu dalam menerima kehamilan berhubungan dengan kehamilan yang tidak direncanakan; (2) Kecemasan dan ketakutan efek hiperemesis terhadap kesejahteraan janin berhubungan dengan kurang pengetahuan.

c) Model Fungsi peran
    Konflik peran berhubungan dengan kehamilan yang tidak direncanakan.
Disertakan diagnosis keperawatan tambahan berkaitan dengan kelemahan fisik dari Orem yaitu Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dari tidak adekuatnya nutrisi dan peningkatan energi yang dibutuhkan selama kehamilan. 
3.     Perencanaan
Adapun rencana keperawatan pada Ny M adalah :
a.      Kekurangan volume cairan pada ibu dan janin berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan melalui muntah dan tidak adekuatnya intak cairan.
Tujuan : keseimbangan cairan dan elektrolit akan kembali ke kondisi normal, yang ditandai dengan turgor kulit kembali normal, membran mukosa lembab, berat badan stabil, tanda-tanda vital dalam batas normal, klien tidak muntah lagi
Rencana intervensi:
1) Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan : seperti turgor kulit, kondisi membran  mukosa dan tanda-tanda vital; 2) Timbang berat badan setiap hari; 3) Pantau dan laporkan warna, jumlah dan frekuensi emesis; 4) Catat asupan dan haluaran; 5) Pantau nilai laboratorium dan laporkan nilai-nilai yang tidak normal; 6) Pertahankan dan pantau pemberian cairan intravena yang terdiri dari elektrolit, glukosa, vitamin; 7) Bila telah diijinkan pemasukan oral, berikan cairan dengan perlahan meningkat jumlahnya sesuai toleransi Ny M; 8) Kolaborasi pemberian antiemetik.
b.      Perubahan nutrisi untuk ibu dan janin: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah yang menetap sekunder akibat hiperemesis.
Tujuan : klien menerima pemberian nutrisi secara oral maupun parenteral yang ditandai muntah berkurang, idak terjadi penurunan berat badan.
Rencana intervensi:
1) Batasi asupan peroral jika klien terus menerus muntah; 2) Pertahankan dan pantau pemberian cairan intavena; 3) Catat asupan dan haluaran; 4) Timbang berat badan setiap hari; 5) Bila muntah sudah berkurang berikan makan dalam porsi kecil tapi sering, berikan makanan yang ringan tidak mengandung lemak; 6) Anjurkan klien mengkonsumsi jahe dan permen untuk mengurangi mual dan muntah; 7) Kaji tanda vital dan keadaan abdomen; 8) Jelaskan pada klien tentang pengaturan pola makan untuk mencegah terjadinya mual dan muntah pada kehamilan; 9) Kolaborasi pemberian TPN,  antiemetik, vitamin.
c.       Nyeri berhubungan dengan muntah yang terus menerus.
Tujuan : Klien mengatakan muntah berkurang dan  nyeri berkurang.
Rencana intervensi:
1) Berikan lingkungan yang nyaman dan usahakan agar tidak ada bau-bauan yang dapat merangsang muntah; 2) Anjurkan klien untuk membersihkan mulut sebelum makan dan sesudah muntah; 3) Berikan posisi fowler atau duduk setiap makan; 4) Bimbing klien melakukan tehnik relaksasi: latihan pernapasan dan aromaterapi (bau parfum).
d.      Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan dehidrasi.
Tujuan :Tidak ditemukan lesi dan iritasi pada mulut Ny M.
Rencana intervensi:
1) Inspeksi keadaan mulut terhadap adanya lesi dan iritasi; 2) Bantu klien menjaga kebersihan mulut sebelum dan sesudah makan.
e.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat  tidak adekuatnya nutrisi dan peningkatan energi yang dibutuhkan selama kehamilan.
Tujuan :   klien menunjukan peningkatan kemampuan dalam beraktivitas  sesuai kemampuan.
Rencana intervensi:
1) Anjurkan klien untuk tirah baring sampai mual dan muntah berkurang; 2) Bantu klien memenuhi kebersihan diri seperti mandi, mengganti pakaian dan  kebersihan mulut; 3) Jika muntah berkurang bimbing klien melakukan aktivitas secara bertahap.

f.        Tidak efektifnya koping individu dalam menerima kehamilan berhubungan dengan kehamilan yang tidak direncanakan.
Tujuan : Klien mengembangkan mekanisme koping positif dalam menerima kehamilannya.
Rencana intervensi:
1) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan batasi pengunjun; 2) Berikan dukungan psikologis; 3) Diskusikan dengan Ny M dan pasangan tentang kehamilannya; 4) Jelaskan dampak tidak menerima kehamilan terhadap kondisi Ny M; 5) Berikan penguatan pada klien bahwa tidak semua orang mampu mendapatkan keturunan; 6) Jelaskan kondisi janin Ny M berdasarkan hasil pemeriksaan; 7) Bantu klien untuk mengidentifikasi kekuatan dirinya dan mekanisme koping yang sebelumnya digunakan.
g.      Kecemasan dan ketakutan efek hiperemesis terhadap kesejahteraan janin berhubungan dengan kurang pengetahuan.
Tujuan   : Klien mengungkapkan perasaan dan kekhawatirannya terhadap
                 kesejahteraan janin.
Rencana intervensi :
1) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatirannya; 2) Perlihatkan sikap menerima rasa takut klien; 3) Bantu klien untuk mengidentifikasi kekuatan dirinya dan mekanisme koping yang sebelumnya digunakan; 4) Beri informasi tentang risiko potensial yang dapat terjadi pada janin 5) Kaji pemahaman klien tentang kondisi yang dialaminya; 6) Jelaskan tentang kondisi klien, penyebab dan perawatannya; 7) Libatkan keluarga terutama pasangan pada saat memberikan penjelasan; 8) Berikan kesempatan kepada klien dan keluarga  untuk bertanya; 9) Diskusikan dengan klien tentang perawatan setelah pulang dari rumah sakit.

4.     Implementasi
Menurut Roy, implementasi keperawatan dilakukan dengan tujuan merubah stimulus fokal, kontekstual dan residual. Implementasinya lebih difokuskan kepada kemampuan koping klien sehingga seluruh stimulus dapat diadaptasi sesuai dengan kemampuan  klien.
Implementasi yang dilakukan berdasarkan teori Roy ditujukan untuk memanipulasi stimulus fokal, kontekstual maupun residual. Untuk diagnosis keperawatan yang terkait dengan Model Adaptasi Fisiologis antara lain :
a.       Memantau tanda dan gejala kekurangan cairan: seperti turgor kulit, kondisi membran  mukosa dan tanda-tanda vital.
b.      Menimbang  berat badan setiap hari pada waktu dan dengan alat yang sama
c.       Memantau dan melaporkan warna, jumlah dan frekuensi emesis.
d.      Mencatat asupan dan haluaran setiap shift.
e.       Memantau  nilai laboratorium dan melaporkan nilai-nilai yang tidak normal.
f.       Mempertahankan dan memantau pemberian cairan intravena yang terdiri dari elektrolit, glukosa, vitamin 20-30  tts/menit.
g.      Menganjurkan dan memberi makan dalam porsi kecil tapi sering, berikan makanan yang ringan tidak mengandung lemak setelah muntah berkurang seperti kacang hijau, crackers.
h.      Menganjurkan  klien mengkonsumsi jahe (dalam bentuk teh jahe) dan permen rasa mint/menthol  untuk mengurangi mual dan muntah.
i.        Menjelaskan beberapa metode dalam mengurangi mual dan muntah antara lain metode penekanan (acupressure) pada daerah P6 point yaitu tiga jari di bawah pergelangan tangan.
j.        Memberikan posisi duduk setiap makan.
k.      Membimbing klien melakukan tehnik relaksasi: latihan pernapasan dan aromaterapi dengan bau parfum
l.        Menjelaskan tentang kondisi klien, penyebab dan perawatannya serta risiko potensial yang dapat terjadi pada janin pada Ny M dan pasangan.
m.    Membantu klien untuk mengidentifikasi kekuatan dirinya dan mekanisme koping yang sebelumnya digunakan.
n.      Melakukan kolaborasi pemberian kalium berdasarkan hasil laboratorium
o.      Melaksanakan tindakan delegatif : memberikan entiemetik : pada saat masih muntah : injeksi  primperan 3x 1 ampul, pemberian neurobion 2x 1ampul perinfus, kalium 25 mEq/L perinfus 20 tts/menit. Setelah muntah berkurang : pemberian peroral nerobat 3x1, cimetidine 3x1, mediamer 3x1.

Penerapan model konseptual Orem pada Ny M antara lain: pada saat klien mengalami mual dan muntah yang berlebihan klien dianjurkan untuk tirah baring dan perawat membantu klien dalam memenuhi kebutuhannya. Sistem keperawatan yang diberikan dapat bersifat wholly/totally compensatory nursing (keperawatan total) atau partially/partially compensatory nursing (keperawatan sebagian). Pada saat mual dan muntah berkurang, maka klien mulai dibimbing untuk melakukan aktivitas secara bertahap tentunya dengan memperhatikan tanda-tanda vital. Membimbing  klien melakukan aktivitas secara bertahap mulai dari aktivitas yang dapat dilakukan di atas tempat tidur seperti mandi dan mengganti pakaian sendiri sampai dengan memenuhi kebersihan diri di kamar mandi.

Bantuan keperawatan yang diberikan dapat dalam bentuk 1) Melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhan klien (termasuk tindakan kolaborasi)  antara lain membantu pemenuhan cairan, pemenuhan nutrisi dan mengatasi nyeri termasuk kolaborasi pemberian antiemetik dan  roboransia; 2) Membimbing dan mengarahkan klien ; 3) Memberikan dukungan fisik dan psikologis; 4) Mempertahankan lingkungan yang mendukung termasuk disini bagaimana mengatur lingkungan untuk mencegah bau-bauan yang dapat merangsang muntah, mengatur pengunjung  untuk memberikan kesempatan bagi klien beristirahat ;  dan 5) Pendidikan kesehatan antara lain tentang Ny M dianjurkan untuk makan dalam porsi kecil, sering dengan makanan yang rendah lemak serta meningkatkan diet potassium dan magnesium. Pemberian cairan diantara waktu makan lebih baik dan menurunkan terjadinya mual. Ny M juga dianjurkan untuk menghubungi pelayanan kesehatan yang tersedia sesegera mungkin jika terjadi mual dan muntah, khususnya bila ada gejala nyeri abdomen, dehidrasi dan atau kehilangan berat badan.

Untuk lebih memahami tentang hiperemesis gravidarum selain memberikan penjelasan yang sifatnya lisan, residen juga memberikan Ny M leaflet yang dapat dibawa ke rumah sehingga memungkinkan bagi ibu dan keluarga dalam melakukan pengelolaan dalam mengurangi terjadinya mual dan muntah (lampiran 1). Ada beberapa hal yang disarakan pada Ny M untuk mengurangi terjadinya mual dan muntah selama kehamilan antara lain :
a.       Sebelum bangun dari tempat tidur di pagi hari, mintalah bantuan suami untuk membuatkan secangkir teh manis hangat dan biskuit atau krackers. Kedua jenis makanan ini dapat mengurangi mual pada pagi hari.
b.      Makan dalam porsi kecil tapi sering, walaupun tidak ada nafsu makan usahakan agar ibu tetap makan.
c.       Untuk mengurangi rasa mual, makanlah lebih banyak zat tepung, apalagi jika mual-mual disertai muntah.
d.      Menghindari makanan pencetus seperti pedas dan asam. Juga makanan yang banyak mengandung krim dan gorengan.
e.       Selain makanan, ibu juga menghindari bau-bauan yang menyengat seperti rokok.
f.       Berusahalah untuk mengisi waktu “baik” ibu yaitu saat rasa mual hilang untuk makan dan minum.
g.      Untuk mengganti cairan tubuh yang terbuang lewat muntah, banyak-banyak mengkonsumsi makanan atau minuman berkadar air tinggi seperti sayuran, jus buah dan sejenisnya.
h.      Jenis-jenis makanan yang diduga memicu perut kembung sebaiknya tidak dikonsumsi, karena kondisi kembung akan membuat perut serasa terisi penuh padahal kosong.
i.        Yang pasti hindari stress dan ketegangan dalam bentuk apapun. Jangan pernah menganggap kehamilan sebagai beban, melainkan sebagai fase kehidupan baru yang menyenangkan.

Berkaitan dengan masalah pemenuhan nutrisi, residen juga menerapkan teori transkultural Leininger. Bentuk penerapannya adalah negosiasi budaya dengan cara mendiskusikan dengan klien tentang pola makan dan jenis makan yang dikonsumsi antara lain menghindari makanan pedas, negosiasi tentang pelasanaan puasa selama hamil, penjelasan tentang pola makan yang tepat dalam mengatasi mual dan muntah.

Untuk diagnosa keperawatan gangguan kecemasan berhubungan dengan efek hiperemesis terhadap kesejahteraan janin selain penerapan teori adaptasi Roy dan keperawatan maternitas yang berpusat pada keluarga, residen menerapkan hubungan interpersonal Peplau.

Integrasi ketiga  konsep ini saat implementasi selain membantu adaptasi klien dalam menghadapi kondisi yang dialaminya juga kebutuhan klien akan pemecahan masalah kecemasan dapat teratasi yang didukung pula oleh bentuk aplikasi Peplau dalam proses keperawatan yaitu melalui komunikasi terapeutik melalui fase orientasi, fase identifikasi, fase eksploitasi dan fase resolusi sehingga klien merasa tidak ditinggalkan dan dapat menumbuhkan rasa aman klien.

Implementasi yang diberikan pada klien tersebut diantaranya adalah: mengkaji status psikologis dan emosional, menganjurkan klien untuk mengungkapkan perasaannya pada suami, keluarga maupun petugas kesehatan, memberikan informasi yang jelas dengan cara yang tepat, dan pastikan pemahaman pasien terhadap informasi yang diberikan, memberikan kesempatan pada klien untuk memberikan masukan pada proses pengambilan keputusan (misal keputusan setiap intervensi yang akan didapat klien, mendukung adanya orang yang penting bagi klien, memberikan informasi pada mereka tentang kemajuan kondisi pasien dan beri kesempatan untuk berkunjung dan berkomunikasi, menganjurkan suami  untuk memberikan dukungan dan motivasi klien menjalani proses perawatan.

5.     Evaluasi
Menurut Roy, evaluasi menggambarkan perilaku yang diharapkan dengan membandingkan dengan perilaku output dari pencapain tujuan yang ditentukan. Penilaian kembali tujuan dan intervensi dibuat berdasarkan hasil evalusi. Evaluasi menggambarkan pencapaian integritas adaptasi.

Orem secara spesifik tidak membahas tentang evaluasi. Hasil akhir yang diinginkan adalah klien membutuhkan kemandirian dalam hal mengatasi masalah kesehatannya.

Menurut Peplau, evaluasi yang diharapkan adalah klien sudah kembali produktif walaupun dengan cemas, sedangkan menurut Leininger evaluasi yang diinginkan pada klien setelah tindakan keperawatan dilakukan akan tergambar dari perilaku klien yang mendukung kesehatan.

   Adapun evaluasi asuhan keperawatan pada klien Ny M (tanggal  25 Oktober 2005):
   a.   Evaluasi berdasarkan model adaptasi Roy
1) Mual dan muntah berkurang; 2) Nilai laboratorium kembali normal; 3)Turgor kulit, membran mukosa lembab , tanda-tanda vital kembali normal : tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi 84x/menit, suhu : 36,5oC, pernapasan 20 kali/menit; 4) Berat badan Ny M tidak mengalami penurunan (BB 45 kg); 5) Klien mengatakan mulai dapat menerima kehamilannya dan akan menjaga kehamilannya serta berharap janinnya tidak menglami kecacatan; 6) Ny M mengatakan akan mulai mengatur pola makan sehingga tidak mengalami mual dan muntah antara lain tetap makan dalam porsi kecil tapi sering, mengunyah permen jika mulai terasa mual.
  b.  Evaluasi berdasarkan model Self Care Orem 
Klien dapat melakukan pemenuhan kebersihan diri tanpa bantuan dan klien memahami kondisi yang dialaminya dan dapat menjelaskan kembali tentang kondisi, etiologi dan perawatan di rumah.
c. Evaluasi berdasarkan Teori Peplau 
Ny M mendiskusikan rasa khawatirnya dengan perawat dan menyatakan merasa lega setelah mendiskusikan risiko hiperemesis gravidarum terhadap janinnya dan Tn Rd diidentifikasi sebagai sumber dukungan utama bagi Ny M dan dilibatkan dalam diskusi dan perawatan Ny M.
d.      Evaluasi berdasarkan Teori Leininger
Sulit bagi Ny M untuk mengkonsumsi makanan yang disediakan dari rumah sakit, klien makan makanan pedas.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar