Jumat, 23 September 2011

PENYAKIT MALARIA


BAB 1

PENDAHULUAN


1.1.     Latar belakang penelitian
Penyakit malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan parasit dari kelompok Plasmodium yang berada di dalam sel darah merah, atau sel hati yang ditularkan oleh nyamuk anopheles. Sampai saat ini telah teridentifikasi sebanyak 80 spesies anoipheles dan 18 spesies diantaranya telah dikonfirmasi sebagai vektor malaria.
Penyakit malaria ini sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, khususnya di bagian Indonesia Timur.Angka mortalitas akibat penyakit ini dibeberapa daerah di Indonesia sampai saat ini cukup tinggi yaitu sebesar 20,9 – 50 %. Seperti di  Propinsi Nusa Tenggara Timur yang merupakan salah satu daerah endemis malaria dan penyakit ini menduduki rangking ke 2 dari 10 besar dari  penyakit utama  di Puskesmas. Berdasarkan Profil Kesehatan Propinsi Nusa Tenggara Timur dari tahun 1996 s/d 1997, Insiden penyakit malaria yang diukur berdasarkan Annual Malaria Incidence (AMI) sejak tahun 1996 s/d 1997 cenderung meningkat, seperti terlihat pada data berikut : tahun 1996 sebesar 189,17 ‰, sedangkan pada tahun 1997 sebesar 197,5 ‰ sedangkan  Parasite Rate (PR) mengalami penurunan dari  tahun 1996 sebesar 4,41% dan pada tahun 1997 sebesar 1,77%, namun jika dilihat perdesa masih ada desa dengan RP > 10 %, disamping itu penyakit malaria ini juga sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (Kanwil Depkes. NTT, 1998).
Dalam rangka pemberantasan penyakit malaria tersebut sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan sejak tahun 1960, misalnya penemuan dan pengobatan penderita, pemberantasan vektor,  survei entomology, dan penelitian-penelitian yang mendukung, namun  sampai saat ini belum memberikan hasil yang optimal. Hal ini disebabkan 1) terlalu mengandalkan satu teknologi yang ternyata tidak mampu mengatasi malaria di semua wilayah yang terjangkit malaria yaitu penyemprotan dengan menggunakan DDT, 2) plasmodium falcifarum yang resisten terhadap choloquin, dimana  berdasarkan  penelitian yang telah dilakukan di Propinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 1983 bahwa telah terjadi resistensi plasmodium terhadap kloruquin secara in-vitro dan vivo di Robek, - Manggarai  (Tjitra. E), 3) masalah operasional yang meliputi :pengadaan obat, penyampaian obat kepada penderita , keteraturan minum obat. 4) pemberantasan malaria dilakukan secara terpisah dari program kesehatan lainnya yang ada dalam institusi kesehatan. 5) kurang memperhatikan aspek sosial budaya masyarakat di wilayah terjangkitnya malaria. Masalah aspek sosial budaya ini berupa perilaku dari masyarakat yang meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan tentang malaria.
Mengingat keadaan tersebut, maka perlu diteliti faktor resiko apakah  yang mempengaruhi terjadinya penyakit malaria tersebut.
     Rumusan Masalah :
Apakah faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya penyakit malaria di wilayah Puskesmas Niki-niki, Kecamatan Amanatun Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan.
1.3. Tujuan :
1.3.1. Tujuan umum :
Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kekambuhan penyakit malaria pada penderita malaria  di wilayah Puskesmas Niki-niki Kabupaten Timor Tengah Selatan.
1.3.2.Tujuan khusus :
Mengetahui hubungan faktor umur  terhadap kekambuhan penyakit malaria.
Mengetahui hubungan faktor jenis kelamin terhadap kekambuhan penyakit malaria.
Mengetahui hubungan faktor jenis plasmodium terhadap kejadian penyakit malaria.
Mengetahui hubungan cara hidup  terhadap kejadian penyakit malaria.
Mengetahui hubungan faktor social ekonomi terhadap kejadian penyakit malaria.
Mengetahui hubungan faktor status gizi terhadap kejadian penyakit malaria.
Manfaat penelitian :
Membantu pengelola program malaria untuk  menentukan  intervensi dalam rangka menurunkan angka kesakitan malaria.
Bagi peneliti sendiri dapat mengembangkan kemampuannya dan meyumbangkan ilmunya bagi kemajuan dirinya dan institusi tempatnya bertugas.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

 Defenisi
Penyakit malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh sporozoa dari genus plasmodium yang berada di dalam sel darah merah, atau sel hati. Sampai saat ini dikenal cukup banyak spesies dari plasmodia yang terdapat pada burung, monyet, kerbau, sapi, binatang melata.
Agen (parasit/Plasmodium)
Agen penyebab malaria dari genus Plasmodium, Familia Plasmodiidae, dari ordo Coccidiidae. Penyebab malaria pada manusia  di Indonesia sampai saat ini empat spesies plasmodium  yaitu Plasmodium falciparum sebagai penyebab malaria tropika, Plasmodium vivax sebagai penyebab malaria tertiana, Plasmodium malarie sebagai penyebab malaria kuartana dan Plasmodium ovale, jenis ini jarang sekali dijumpai, umumnya banyak di Afrika. (Pampana E.J. 1969; Gunawan S. 2000). Jenis Plasmodium yang sering menyebabkan kekambuhan adalah P. vivax dan P. ovale (Benenson, A.S., 1990; Crewe W., 1985).
Seorang penderita dapat ditulari oleh lebih dari satu jenis Plasmodium, biasanya infeksi semacam ini disebut infeksi camopuran. Tapi umumnya paling banyak hanya dua jenis parasit, yaitu campuran antara P. falcifarum denganP. vivax atau P. ovale. Campuran tiga jenis parasit jarang sekali terjadi (Departemen Kesehatan RI, 1999).
Cara Penularan
Penularan secara alamiah (natural infection)
Penularan secara alamiah dari nyamuk anopheles ke tubuh manusia hingga sakit dapat dilihat pada gambar 2.1. brikut (Depkes. RI., 1999)






 

Orang sakit malaria     Digigit             Nyamuk malaria
                                                                        (belum terinfeksi parasit)


 



                 Menjadi                                                                  Menjadi






 




                                                Menggigil
Orang sakit                                                      Nyamuk malaria terinfeksi
                                                                        (mengandung sporozoit)


 



Gambar 2.1. Penularan Penyakit Malaria Secara Alamiah


Penjelasan dari gambar tersebut secara sederhana dapat dilihat pada keterangan di bawah ini :

* Orang Sakit Malaria * Nyamuk vektor penyebab penyakit
Digigitnyamuk (vektor) penyebar       Nyamuk yang telah menhisap darah
penyakitmalaria. Saat nyamuk me       orang sakit akan terinfeksi oleh pa-
nghisap darah orang sakit itu, maka    rasit malaria. Dalam tubuh nyamuk
 akan terbawa parasit malaria yang     terjadi siklus hidup parasit malaria
 ada dalam darah.                                (seksual).


 


* Orang Sehat * Nyamuk vektor penyebar  penyakit
Digigitnyamuk malaria yang telah      Nyamuk yang telah terinfeksi para-
Terinfeksi  oleh plasmodium. Pada     sit malaria (sporozoit) menggigit
 sakit  akan terinfeksi oleh plasmo-     orang sehat
dium. Pada  saat menggigit  maka
parasit malaria yang ada dalam tu-
buh nyamuk masuk ke dalam darah
manusia. Kemudian manusia sehat
menjadi sakit. Dalam tubuh manu –
sia terjadi siklus hidup parasit malaria.
Penularan yang tidak alamiah
Penularan yang tidak alamiah ada 3 macam (Knight R., 1985, Russel P.F., 1963), yaitu :
2.1.3.2.1.Malaria bawaan (congenital)
Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria. Penularan biasanya melalui tali pusat.
2.1.3.2.2.Secara mekanik
Penularan terjadi melalui tranfusi darah atau melalui jarum suntuk. Penularan melalui jarum suntik banyak terjadi pada para morfinis yang menggunakan jarum suntik yang tidak steril lagi, cara penularan ini pernah dilaporkan terjadi di salah satu rumah sakit di bandung pada tahun 1981, pada penderita yang dirawat dan mendapatkan suntikan intravena dengan menggunakan alat suntik yang dipergunakan untuk menyuntik beberapa pasien, dimana alat suntik itu seharusnya dibuang sekali pakai/disposible (Departemen Kesehatan RI., 1999).
2.1.3.2.3.Secara oral
Cara penularan ini pernah dibuktikan pada burung, ayam, dan monyet.
Penegakan diagnosa
Diagnosa malaria didasarkan atas manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan menemukan parasit (Plasmodium) malaria dalam darah penderita. Penegakan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium memerlukan persyaratan tertentu agar mempunyai nilai diagnostik yang tinggi yaitu : waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir  periode demam memasuki periode berkeringat, karena pada periode ini jumlah trophozoite dalam sirkulasi mencapai maksimal dan cukup matur sehingga memudahkan identifikasi spesies parasit. Volume darah yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler. Kualitas preparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies Plasmodium yang tepat (Purwaningsih, 2000). Diagnosa malaria dibagi dua (Departemen Kesehatan RI., 1999), yaitu :
Secara Klinis (Tanpa Pemeriksaan Laboratorium)
Yaitu diagnosis berdasarkan gejala-gejala klinis malaria, yang gejala umumnya ditandai dengan “ Trias Malaria”, yaitu demam, menggigil dan sakit kepala.
Secara laboratorium (Dengan Pemeriksaan Sediaan Darah)
Selain berdasarkan gejala-gejala klinis, juga dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan SD tetes tebal. Apabila hasil pemeriksaan SD tetes tebal selama 3 kali berturut-turut negatif, diagnosa malaria dapat disingkirkan. Bila dihitung parasit > 5% atau 5000 parasit/200 lekosit, maka didiagnosa sebagai malaria berat. Di daerah yang tidak ada sarana laboratorium dan mikroskop, diagnosa malaria ditegakkan hanya berdasarkan pemeriksaan klinis tanpa pemeriksaan laboratorium (anamnese dan pemeriksaan fisik saja)..
Gejala klinis
Gejala dari penyakit malaria terdiri atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu (parokisme), yang diselingi oleh suatu periode (periode laten) dimana penderita bebas sama sekali dari demam. Jadi gejala klinis utama
 dari penyakit malaria  adalah demam, menggigil secara berkala dan sakit kepala disebut “Trias Malaria” (Malaria paroxysm). Secara berurutan. Kadang-kadang menunjukkan gejala klinis lain seperti : badan terasa lemas dan pucat karena kekurangan sel darah merah dan berkeringat, napsu makan menurun, mual-mual, kadang-kadang diikuti muntah, sakit kepala dengan rasa berat yang terus menerus, khususnya pada infeksi dengan falsiparum. Dalam keadaan menahun (kronis) gejala tersebut diatas disertai dengan  pembesaran limpa. Pada malaria berat, gejala-gejala tersebut diatas disertai kejang-kejang dan penurunan kesadaran sampai koma. Pada anak, makin muda usia makin tidak jelas gejala klinisnya, tetapi yang menonjol adalah diare dan anemia serta adanya riwayat kunjungan atau berasal dari daerah malaria.
Stadium menggigil
Dimulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin, nadi cepat lemah, bibir dan jari pucat/kebiruan. Penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 sampai 1 jam.
Stadium demam
Setelah merasa kedinginan penderita merasa kepanasan, muka merah, kulit kering, dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala, nadi lebih kuat. Penderita merasa sangat haus dan suhu tubuh bisa mencapai 41 ÂșC. Stadium ini berlangsungantara 2-4 jam.
Stadium berkeringat
Penderita berkeringat banyak, suhu badan menurun dengan cepat, kadang-kadang samapai di bawah suhu normal, dapat tidur nyenyak dan setelah bangun tidur badan terasa lelah tetapi tidak ada gejala lain. Stadium ini berlangsung antara 2-4 jam. Beberapa keadaan klinik dalam perjalanan infeksi malaria adalah : (Harijanto P.N.2000: Departemen Kesehatan, 1999; Pampana F.J., 1969; Russel P.F., 1963).
1).        Serangan primer
Yaitu keadaan ulai dari akhir masa inkubasi dan mulai terjadi serangan paroksismal yang terdiri dari dingin/menggigil; panas dan berkeringat. Serangan paroksismal ini dapat pendek atau panjang tergantung dari perbanyakan parasit dan keadaan imunitas penderita.
2).        Periode latent
Periode ini ditandai dengan tanpa gejala dan tanpa parasetemia selama terjadinya infeksi malaria. Biasanya terjadi diantara dua keadaan paroksismal. Periode latent dapat terjadi sebelum serangan primer atau sesudah serangan primer dimana parasit sudah tidak ada di peredaran darah tepi tetapi infeksi masih berlangsung.
Rekrudensi (Recrudescense)
Berulangnya gejala klinik dan parasetemia dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan primer. Recrudescense dapat terjadi sesudah periode latent dari serangan primer.
Rekurensi (Recurrence)
Yaitu berulangnya gejala klinik atau parasetemia sesudah 24 minggu berakhirnya serangan primer. Keadaan ini juga menerangkan apakah gejala klinik disebabkan oleh kehidupan parasit berasal dari bentuk di luar eritrosit (hipnosist) atau parasit dari bentuk eritrosit.
Kambuh (Relaps atau “Rechute”)
Ialah berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang lebih lama dari waktu diantara serangan periodek dari infeksi primer. Istilah relaps dipakai untuk menyatakan berulangnya gejala klinik setelah periode yang lama dari masa latent, samapai 5 tahun, biasanya terjadi karena infeksi tidak sembuh atau oleh bentuk diluar eritrosit (hati). Kekambuhan (relaps) malaria dapat digolongkan pada kekambuhan klinis atau kekambuhan parasit. Kekambuhan klinis adalah adanya serangan klinis, terjadi tanpa disertai adanya reinfeksi. Sedangkan kekambuhan parasit adalah timbul kembali atau terjadinya peningkatan jumlah parasit, yang terjadi sesudah periode sub-patency atau parasetemia (Russel, 1963).
Masa Inkubasi
Masa inkubasi penyakit malaria dibedakan atas masa inkubasi ekstrinsik (= stadium sporogani) dan masa inkubasi intrinsik. Masa inkubasi ekstrinsik adalah mulai saat masuknya gametosit ke dalam tubuh nyamuk sampai terjadinya stadium sporogani dalam tubuh nyamuk yaitu terbentuknya sporozoit yang kemudian masuk ke dalam ke lenjar air liur. Masa inkubasi ekstrinsik dipengaruhi oleh suhu udara. Pada suhu 26°C, untuk setiap species adalah sebagai berikut : P. falcifarum 10-12 hari (15), P. vivaks : 8 – 11 hari, P. ovale  15 hari (Departemen Kesehatan RI, 1999).
Masa inkubasi intrinsik adalah waktu mulai saat masuknya sporozoit ke dalam darah samapai timbulnya gejala klinis/demam atau sampai pecahnya sizon darah. Masa inkubasi intrinsik berbeda tiap spesies ; P. falcifarum 9-14 hari (12), P. vivaks : 12 – 17 (15) hari, P. ovale  16 – 18 (17) hari (Russel P.F., 1963).
Masa inkubasi intrinsik berbeda dengan masa prepaten yang menggambarkan jarak waktu antara masuknya sporozoit dan pemunculan parasit saat pertama kali ada di darah tepi. Masa subpaten merupakan masa dimana jumlah parasit yang ada pada darah tepi  sangat sedikit sehingga belum bisa ditemukan pada pemeriksaan mikroskopik, masa ini biasanya disebut subpaten parasitemia. Masa prepaten dan subpaten parasitemia selanjutnya diikuti oleh adanya gejala klinis yang biasanya disertai oleh paten parasitemia (adanya parasit di darah tepi yang sudah bisa ditemukan pada pemeriksaan mikroskopik). Serangan pertama terdiri dari beberapa parokisme (serangan demam dengan interval waktu tertentu, tergantung pada lamanya siklus sisogoni darah setiap spesies). Bila serangan pertama ini tidak diobati dengan sempurna mungkin timbul rekrudensi atau rekurensi. Serangan klinis selanjutnya akan dipengaruhi oleh imunitas penderita yang kemudian timbul. Kekambuhan atau relapse (rekrudensi/rekurensi) tanpa disaertai gejala klinis relapse parasit. Interval antara waktu dua relaps disebut masa/periode laten (WHO, 1981).
Faktor host yang mempengaruhi terjadinya penyakit malaria :
Umur :
Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi parasit malaria, terutama pada anak dengan gizi buruk (Rampengan T.H., 2000). Infeksi akan berlangsung lebih hebat  pada usia muda atau sangat muda karena belum matangnya system imun pada usia muda sedangkan pada usia tua disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh misalnya oleh karena penyakit penyerta seperti Diabetes Melitus (Weir D.M., 1987). Perbedaan angka kesakitan malaria pada berbagai golongan umur selain dipengaruhi oleh faktor kekebalan juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pekerjaan , pendidikan dan migrasi penduduk (Departemen Kesehatan RI,2000).
Jenis kelamin
Perbedaan angka kesakitan malaria pada anak laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, migrasi penduduk dan lain-lain (Departemen Kesehatan., RI 1991).
Riwayat malaria sebelumnya
Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya akan terbentuk imunitas sehingga akan lebih tahan terhadap infeksi malaria. Contohnya penduduk asli daerah endemik akan lebih tahan dibandingkan dengan transmigran yang dating dari daerah non endemis (Dachlan Y.P., 1986 : Smith, 1995 : Maitland, 1997)
Ras
Beberapa ras manusia  atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya “siekle cell anemia” merupakan kelainan yang timbul karena penggantian asam amino glutamat pada posisi 57 rantai hemoglobin. Bentuk heterozigot dapat mencegah timbulnya malaria berat, tetapi tidak melindungi dari infeksi. Mekanisme perlindungannya belum jelas, diduga karena eritrosit Hb S (sickle cell train0 yang terinfeksi parasit lebih mudah rusak di system retikuloendothelial, dan/atau karena penghambatan pertumbuhan parasit akibat tekanan O2 intraeritrosit rendah serta perubahan kadar kalium intra sel yang akan mengganggu pertumbuhan parasit atau karena adanya akulasi bentuk heme tertentu yang toksik bagi parasit (Nugroho A., 2000). Selain itu penderita ovalositosis (kelainan morfologi eritrosit berbentuk oval) di Indonesia banyak terdapat di Indonesia bagian timur dan sedikit di Indonesia bagian barat. Prevalensi ovalosis mulai dari 0,25 % (suku Jawa) sampai 23,7 % suku Roti (Setyaningrum, 1999).
Kebiasaan
Kebiasaan sangat berpengaruh terhadap penyebaran malaria. Misalnya kebiasaan tidak menggunakan kelambu saaat tidur dan senang berada diluar rumah pada malam hari. Seperti pada penelitian di Mimiki Timur, Irian Jaya ditemukan bahwa kebiasaan penduduk menggunakan kelambu masih rendah (Suhardja, 1997)
Status gizi :
Status gizi ternyata berinteraksi secara sinergis dengan daya tahan tubuh. Makin baik status gizi seseorang, makin tidak mudah orang tersebut terkena penyakit . Dan sebaliknya makin rendah status gizi seseorang makin mudah orang tersebut terkena penyakit (Nursanyoto, 1992).
Pada banyak penyakit menular terutama yang dibarengi dengan dengan demam, terjadi banyak kehilangan nitrogen tubuh. Nitorgen tubuh diperoleh dari perombakan protein tubuh. Agar seseorang pulih pada keadaan kesehatan yang normal, diperlukan peningkatan dalam protein makanan. Penting diperhatikan pula bahwa fungsi dari dari semua pertahanan tubuh membutuhkan kapasitas sel-sel tubuh untuk membentuk protein baru. Inilah sebabnya maka setiap defesiensi atau ketidak seimbangan zat makanan yang mempengaruhi setiap system protein dapat pula menyebabkan gangguan fungsi beberapa mekanisme pertahanan tubuih sehingga pada umumnya melemahkan resistensi host. Malnutrisi selalu menyebabkan peningkatan insiden penyakit-penyakit infeksi dan terhadap penyakit yang sudah ada dapat meningkatkan keparahannya (Maria, 1992).
Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan salah satu cara untuk memantau keadaan gizi (status gizi) bagi orang dewasa. Dengan IMT akan diketahui apakah seseorang dewasa tersebut normal, kurus atau gemuk (Departemen Kesehatan RI., 1995).
Nilai BMI dihitung berdasarkan rumus sbb :
            Berat badan (Kg)
BMI =                                                            
               (Tinggi badan dalam   m)

Tabel 1
Klasifikasi Stutus Gizi Berdasarkan Nilai BMI

Kategori

BMI (Kg/m2)
Kurus


Normal

Gemuk
Tingkat berat
Tingkat ringan



Tingkat berat
Tingkat ringan
< 17,0
< 17,0-18,5

18,5-25,0

25,0-27,0
>27,0
Sumber : Departemen Kesehatan RI., 1995


Sosial ekonomi
Faktor social ekonomi sangat berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mencukupi kebutuhan dasarnya seperti : sandang, pangan dan papan. Semakin tinggi sosisla ekonomi seseorang semakin mudah pula seseorang mencukupi segala kebutuhan hidupnya  termasuk di dalamnya kebutuhan akan pelayanan kesehatan, makanan yang bergizi serta tempat tinggal yang layak dan lain-lain . Menurut Biro Pusat Statistik, semakain tinggi status social ekonomi seseorang maka pengeluaran cenderung bergeser dari bahan makanan ke bahan non makanan. Jadi faktor social ekonomi seperti kemiskinan, harga barang yang tinggi, pendapatan keluarga rendah, dan produksi makanan rendah merupakan resiko untuk terjangkitnya malaria (Wirjatmadi B., 1985).
Immunitas
Immunitas ini merupakan suatu pertahanan tubuh. Masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria biasanya mempunyai imunitas yang alami sehingga mempunyai pertahanan alam terhadap infeksi malaria.
Faktor-faktor  yang mempengaruhi kekambuhan  penyakit malaria :
Menurut Departemen Keseharan RI, tahun 1999, ada 2 macam kekambuhan yaitu kekambuhan rekrudensi (short term relapse) yang timbul oleh karena parasit malaria dalam eritrosit menjadi banyak, dapat timbul beberpa minggu (8 minggu) setelah penyakit sembuh/serangan pertama dan rekurensi (long term relapse) disebablan oleh parasit pada siklus eksoeritrositer masuk ke dalam darah dan menjadi banyak biasanya timbul ± 6 bulan setelah penyakit sembuh.
Russel P.F. tahun 1963 menyatakan bahwa kekambuhan (Relapse atau Rechute) ialah berulangnya gejala klinik atau parasetemia yang lebih lama dari waktu di antara serangan periodic dari infeksi primer. Istilah relapse dipakai untuk menyatakan berulangnya gejala klinik setelah periode yang lama dari masa latent, sampai 5 tahun, biasanya terjadi karena infeksi tidak sembuh atau oleh bentuk di luar eritrosit (hati), kekambuhan (relapse) malaria dapat digolongkan pada kekambuhan klinis atau kekambuhan parasit. Kekambuhan klinis adalaj adanya serangan klinis, terjadi tanpa disertai adanya reinfeksi. Sedangkan  kekambuhan parasit adalah timnulnya kembali atau terjadinya peningkatan jumlah parasit yang terjadi sesudah periode subpatency atau parasetemia.
Reinfeksi adalahinfeksi kedua oleh agen patogenik yang sama atau infeksi kedua pada suatu organ misalnya ginjal oleh agen patogenik yang berlainan (Haryono R.M., 1994).
Plasmodium vivax atau P. ovale pada siklus parasit di jaringan hati (sizon jaringan), sebagian parasit yang berada dalam sel hati tidak melanjutkan sikulusnya ke siklus eritrositer tetapi tertanam di jaringan hati yang disebut hipnosit, dan bentuk hipnosit inilah yang menyebabkan malaria. Penderita yang mengandung hipnosit, apabila suatu saat dalam keadaan daya tahan tubuh menurun misalnya akibat terlalu lelah, sibuk, stress, atau perubahan iklim (musim hujan) maka hipnosit akan terangsang untuk melanjutkan siklus parasit dari dalam sel ke eritrosit. Setelah eritrosit  yang berparasit pecah akan timbul gejala penyakitnya kembali. Misalnya 1-2 tahun yang sebelumnya pernah menderita menderita P. vivax/P.ovale dan sembuh setelah diobati, jika suatu saat orang tersebut pindah ke daerah bebas malaria dan tidak ada nyamuk malaria, dalam keadaan kelelahan/stress maka gejala malaria muncul kembali dan bila diperiksa sediaan darahnya akan positif P.vivax atau P. ovale (Departemen Kesehatan RI, 1991).
Umur :
Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi parasit malaria, terutama pada anak dengan gizi buruk (Rampengan T.H., 2000). Infeksi akan berlangsung lebih hebat  pada usia muda atau sangat muda karena belum matangnya system imun pada usia muda sedangkan pada usia tua disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh misalnya oleh karena penyakit penyerta seperti Diabetes Melitus (Weir D.M., 1987). Perbedaan angka kesakitan malaria pada berbagai golongan umur selain dipengaruhi oleh faktor kekebalan juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pekerjaan , pendidikan dan migrasi penduduk (Departemen Kesehatan RI,2000).
Jenis kelamin
Perbedaan angka kesakitan malaria pada anak laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, migrasi penduduk dan lain-lain (Departemen Kesehatan., RI 1991).
Kelelahan :
Salah satu akibat dari aktivitas fisik yang berlebihan adalah terjadinya kelelahan. Keleahan dapat mempengaruhi fungsi hati dan limpa dalam pembentukan limfosit B yang diperlukan dalam pembentukan atau reaksi imunologi. Keadaan ini hingga dapat mengaktipkan kembali parasit yang ada dalam sel hati atau sebagai hipnosit.
Stess
Pengaruh stress pada penderita adalah melalui hypothalamus akan kehilangan hormoncorticotrophin dan berakibat terganggunya metabolisme karbohidart dan lemak pada hati. Sehingga pembentukan immunoglobin (antibody) seperti IgG, IgA, IgM,IgD, IgE dan gama glubolin dari limfosit B sebagai produk hepar mengalami gangguan.
Kebiasaan
Kebiasaan sangat berpengaruh terhadap penyebaran malaria. Misalnya kebiasaan tidak menggunakan kelambu saaat tidur dan senang berada diluar rumah pada malam hari. Seperti pada penelitian di Mimiki Timur, Irian Jaya ditemukan bahwa kebiasaan penduduk menggunakan kelambu masih rendah (Suhardja, 1997)
Status gizi :
Status gizi ternyata berinteraksi secara sinergis dengan daya tahan tubuh. Makin baik status gizi seseorang, makin tidak mudah orang tersebut terkena penyakit . Dan sebaliknya makin rendah status gizi seseorang makin mudah orang tersebut terkena penyakit (Nursanyoto, 1992).
Pada banyak penyakit menular terutama yang dibarengi dengan dengan demam, terjadi banyak kehilangan nitrogen tubuh. Nitorgen tubuh diperoleh dari perombakan protein tubuh. Agar seseorang pulih pada keadaan kesehatan yang normal, diperlukan peningkatan dalam protein makanan. Penting diperhatikan pula bahwa fungsi dari dari semua pertahanan tubuh membutuhkan kapasitas sel-sel tubuh untuk membentuk protein baru. Inilah sebabnya maka setiap defesiensi atau ketidak seimbangan zat makanan yang mempengaruhi setiap system protein dapat pula menyebabkan gangguan fungsi beberapa mekanisme pertahanan tubuih sehingga pada umumnya melemahkan resistensi host. Malnutrisi selalu menyebabkan peningkatan insiden penyakit-penyakit infeksi dan terhadap penyakit yang sudah ada dapat meningkatkan keparahannya (Maria, 1992).
Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan salah satu cara untuk memantau keadaan gizi (status gizi) bagi orang dewasa. Dengan IMT akan diketahui apakah seseorang dewasa tersebut normal, kurus atau gemuk (Departemen Kesehatan RI., 1995).
Nilai BMI dihitung berdasarkan rumus sbb :
            Berat badan (Kg)
BMI =                                                            
               (Tinggi badan dalam   m)

Tabel 1
Klasifikasi Stutus Gizi Berdasarkan Nilai BMI

Kategori

BMI (Kg/m2)
Kurus


Normal

Gemuk
Tingkat berat
Tingkat ringan



Tingkat berat
Tingkat ringan
< 17,0
< 17,0-18,5

18,5-25,0

25,0-27,0
>27,0
Sumber : Departemen Kesehatan RI., 1995


Daya tahan tubuh
Immunitas ini merupakan suatu pertahanan tubuh. Masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria biasanya mempunyai imunitas yang alami sehingga mempunyai pertahanan alam terhadap infeksi malaria.
Imunitas terhadap malaria sangat kompleks karena melibatkan hampir seluruh komponen system imun baik imunitas spesifik maupun imunitas non spesifik, imunitas humoral maupun imunitas seluler yang timbul secara alamiah maupun didapat sebagai infeksi . Kekebalan alamiah terhadap malaria sebagian besar merupakan mekanisme non imunologis berupa kelainan genetic pada eritrosit atau hemoglobin.
Pada tahun 1949, Haldane JS. Menyatakan bahwa tingginya angka kejadian kelainan-kelainan genetic Hb di daerah endemis malaria mungkin merupakan tanggapan alamiah dalam upaya memberi perlindungan terhadap malaria. Pada penderita dengandefiiensi glukosa-6 phosphat dehidrogenase (G6PD) memiliki perlindungan terhadap malaria hanya tampak pada wamita heterozigot. Kekanismenya belum jelas, kemungkinan karena parasit harus beradaptasi untuk tumbuh pada 2 populasi eritrosit dengan defisiensi G6PD dan eritrosit dengan enzim normal, hal ini akan mengakibatkan terganggunya pertumbuhan parasit.
Orang yang terinfeksi malaria sebelumnya biasanya akan terbentuk imunitas sehingga lebih tahan terhadap infeksi malaria. Contohnya penduduk asli daerah endemik akan lebih tahan  terhadap infeksi malaria dibandingkan dengan transmigran yang dating dari daerah non endemis.
Peranan antibody sangat penting dalam perlindungan terhadap infeksi malaria, dibuktikan dari penelitian Cohen pada tahun 1961 di Afrika yang melaporkan bahwa pemberian dosis tinggi IgD yang berasal dari orang dewasa imun atau dari tali pusat bayi yang baru lahir kepada anak-anak penderita malaria akan dapat menurunkan parasetemia dan memberikan perbaikan klinis serta dapat mencegah infeksi. Hasil yang sama didapat dari penelitian Sabchareon dkk dengan pemberian IgD dari penduduk yang imun di Afrika kepada penderita malaria rekrudesen dewasa di Thailand.
Sarana pertahanan tubuh terhadap malaria dengan cara melakukan filtrasi atas sel-sel eritrosit yang diinfeksi plasmodium dapat terjadi di organ limpa P. falcifarum, juga telah diteliti oleh Looareesuwan, S., dkk (1987) dan didapatkan bahwa penderita infeksi malaria yang disertai dengan splenomegali terjadi peningkatan filtrasi tersebut dan mekanisme sangat mungkin ditujukan untuk menyingkirkan sel-sel eritrosit yang diinfeksi plasmodium tersingkir akan membawa konsekuensi terjadinya anemia yang semakin berat.


BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESA

3.1. Kerangka konseptual enelitian:

Penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui faktor resiko terhadap kejadian penyakit malaria, namun dalam penelitian ini dipilih beberapa variable saja yang diteliti oleh karena keterbatan pengetahuan dan kemampuan peneliti. Maka  berdasarkan landasan teori yang ada dapat dibuat kerangka konsep sbb :
Umur
Jenis kelamin
Kelelahan
Stress                                                               Kekambuhan sakit malaria     
Kebiasaan                                                                                 
Status Gizi                                                                  
Daya tahan tubuh
Ket :                            : variabel yang diteliti

                                    : variabel yang tidak diteliti

Gambar 3.1. Kerangka Konseptual Penelitian

Hipotesis :
Ada hubungan umur dengan kekambuhan sakit malaria.
Ada hubungan jenis kelamin dengan kekambuhan sakit malaria
Ada hubungan faktor kelelahan dengan kekambuhan sakit malaria
Ada hubungan faktor stress  dengan kekambuhan sakit malaria.
Ada hubungan kebiasaan dengan kekambuhan sakit malaria
 Ada hubungan status gizi  dengan kekambuhan sakit malaria
BAB 4
METODE PENELITIAN
     Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah  penelitian observasional dengan pendekatan case control. Jenis penelitian tersebut dipilih dengan alas an : 1) mengetahui hubungan antara dua variabel, 2) waktu penelitian relatif singkat, 3) relatif murah dan mudah dilakukan. Penelitian kasus kontrol menurut Murti Bhisma (1997) adalah rancangan study epidemiologi yang mempelajari hubungan antara paparan dengan kejadian sakit dengan cara membandingkan kelompok kasus  dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya dimasa lampau.
Rancangan penelitian terlihat pada gambar berikut ini :


 

Paparan (+)
                                                                        Kasus
Paparan (-)


 

Paparan (+)
                                                                        Kontrol
Paparan (-)
                       
Lampau                                                                                   Kini
Arah Penelitian                                   
Gambar 4.1. Rancangan Penelitian

Populasi dan sampel
Populasi
Populasi penelitian adalah semua penderita malaria  yang dating berobat di Puskesmas  Kabupaten .
Besar sampel
Untuk menentukan besar sampel penelitian, penulis menggunakan rumus besar sampel, untuk uji proporsi dua sampel oleh Stanley Lemeshow. Pada penelitian ini menggunakan tingkat kemaknaan  5 %, dan kekuatan 80 %. Dengan P1 = 0,50  yaitu proporsi penderita malaria pada tahun 2000, dan P2 = 0,20 yaitu proporsi penderita malaria pada tahun 1999. Sesuai dengan table 6e Stanley Lemeshow, maka di dapat sampel sebesar 31 kasus dan 31 kontrol responden di desa yang tidak ada kader (tabel  terlampir).
Tehnil pengambilan sampel :
Pada study ini untuk menentukan sampel penelitian dimulai dengan mengidentifikasi kelompok penderita yang kambuh pada saat penelitian sebagai sampel kelompok kasus dan kelompok yang tidak pernah kambuh sebagai sampel kelompok kontrol dengan jumlah seimbang 1 : 1 (satu kontrol, untuk satu kasus), dicari penderita yang tidak pernah kambuh yang tinggal serumah atau tetangga dengan kasus.

Alur Penarikan Sampel :
                                               
POPULASI
Yaitu semua pengunjung yang berobat
 di Puskesmas








 



 SAMPEL








 









 

            Kasus                                                  Kontrol
      Penderita  yang kambuh                 Responden   yang tidak
                Sakit malarianya                              kambuh sakit malarianya                                                                                                                     .






 

Gambar 4.2. Alur Penarikan Sampel


    Variabel penelitian dan defenisi operasional variabel :
Faktor resiko merupakam faktor yang berhubungan secara statisyik dengan penyakit, secara kebetulan atau memang mempengaruhi kejadian penyakit tersebut.
4.3.1. Variabel bebas  :
Umur.
Jenis kelamin
Kelelahan
Stress
Kebiasaan
Status gizi
Daya tahan tubuh

3.4.2.Variabel terikat :
Faktor resiko kekambuhan sakit  malaria.
4.3.3. Defenisi operasional variabel
No
Variabel
Defenisi
Cara Kriteria
Skala Data
1.




2.



3.



4.



5.








6




7





8. .



Umur.





Jenis kelamin



Kelelahan




Stress




Kebiasaan









Status gizi




Jenis plasmodium



Kekambuhan/reinfeksi malaria





Adalah usia penderita sesuai dengan waktu kalender


Penggolongan penderita berdasarkan jenis kelamin

Kelelahan didasari oleh aktivitas fisik yang berlebihan


Adalah akibat ketidak sesuaian antara harapan dengan kenyataan.

Adalah kebiasaan tidak memakai kelambu saat tidur dan suka berada di luar rumah hinga malam-malam




 Adalah keadaan gizi berdasarkan Indeks Mass Tubuh (IMT)
Kekambuhan adalah

Adalah jenis plasmodium yang terdapat dalam darah penderita malaria


Adalah berulangnya gejala klinik atau parasetemia yang lebih lama dari waktu diantara serangan periodek dari infeksi primer, pada penderita yang sama, jenis plasmodium yang sama, penderita tidak pergi ke daerah reseptif, tidak ke daerah endemis selama 2 minggu dan reinfeksi adalah infeksi kedua oleh plasmodium yang sama.
Kriteria :
1.Anak-anak (0-11 bulan)
2. Remaja (12-17 tahun)
3. Dewasa (18-55 tahun)
4. Usia lanjut ( > 65 tahun)

1. Laki-laki
2. Perempuan



1.Berat
2. Sedang
3. Ringan
4. Tidak kelelahan

1.Berat
2. Sedang
3. Ringan
4. Tidak kelelahan

1. Tidak menggunakan kelambu dan diluar rumah pada malam hari
2. Tidak menggunakan kelambu atau berada di luar   rumah malam hari
3. Menggunakan kelambu dan berada di rumah malam hari

1. Kurus (IMT < 18,5)
2. Normal (IMT 18,5 – 25,0)
3.Gemuk (IMT > 25,0)


1. Plasmodium Falcifarum
2. P. vivax
3. Campuran P. falcifarum dan P.vivax
4. Plasmodium lain

0 : Tidak kambuh/reinfeksi
1 : kambuh/reinfeksi
Ordinal





Nominal




Ordinal




Ordinal




Ordinal









Ordinal




Nominal





Nominal
Instrumen penelitian :
Jenis instrumen :
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Kuesioner untuk mengetahui umur, jenis kelamin,kebiasaan  hidup, kelelahan, dan stress.
Timbangan untuk mengukur berat badan
Meteran untuk mengukur tinggi badan
Mikroskop untuk mengetahui jenis plasmodium yang ada dalam darah    penderita.
Laporan Puskesmas sebagai data sekunder.
Uji Coba Instrumen :
Dalam pengumpulan data primer digunakan instrumen penelitian berupa kuesioner . Sebelum dilakukan pengumpulan data terlebih dahulu dilakukan uji coba kuesioner untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen tersebut.
Uji Validitas :
Untuk uji validitas atau kesahihan instrumen pengetahuan, sikap dan tindakan  dilakukan uji coba terhadap 20 responden yang terdiri dari 10 orang kasus dan  10 kontrol dengan tehnik analisis butir menggunakan Korelasi Product Moment dengan tingkat signifikan 5 %, apabila harga p < 0,05, maka butir pertanyaan dianggap valid atau sahih.
Uji Reliabilitas
Untuk uji reliabilitas atau keandalan instrumen dilakukan uji coba kuesioner terhadap 10 orang responden yang ditanyai ulang seminggu berikutnya, teknik analisis yang digunakan adalah test retest dengan menggunakan product moment terhadap scor butir pertanyaan dengan tingkat signifikan sebesar 5 %.
     Lokasi  penelitian :
Lokasi penelitian  dilaksanakan di Kecamatan AmanubanTengah
Kabupaten Timor Tengah Selatan
Waktu penelitian :
Waktu penelitian direncanakan  selama tiga bulan yakni bulan Juni s/d Juli  2001.
4.7.     Cara pengumpulan data
Penelitian ini  dilakukan dengan cara sbb :
Wawancara dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan tindakan responden dan kader.
Pengukuran berat badan dengan menggunakan timbangan
Pengukuran tinggi badan dengan menggunakan meteran
Pemeriksaan SD dengan menggunakan mikroskop
Pengumpulan laporan untuk data sekunder berupa catatan medik responden, data demografi dan geografi Puskesmas Niki-Niki dan desa penelitian.
4.8.     Analisa data
Analisa data dilakukan dengan  UJI REGRESI LOGISTIK GANDA dibantu dengan alat perangkat lunak komputer program SPSS for window versi 10.0 sesuai dengan tujuan penelitian yaitu menggambarkan hubungan antara satu variabel response (dependent) yaitu kejadian malaria dengan beberapa variabel independent yaitu umur, jenis kelamin, status gizi, riwayat penyakit malaria sebelumnya dan cara hidup yang berskala ordinal baik secara bivariat maupun secara bersama-sama (multivariate).
Sehingga probabilitas terjadinya sakit malaria dapat digunakan rumus sbb :
                                    1
P (X) = 
                             -(bo + b1X1 + b2X2 ……+ bnXn)
            1 + e

dimana :

P(X)                             = fungsi peluang/probabilitas terjadinya outcame
n                      = banyaknya parameter/variabel
e                       = bilangan eksponensial
bo,b1,b2 dst                = koefesien regresivaraibel predictor (independen)
X1,X2,X3 dst = variabel predictor yang pengaruhnya akan diteliti

Analisis regresi logistik ganda mampu mengkonversikan koefesien regresi (b1) menjadi ratio odds. Karena variabel predictor berskala kategori maka rumur OR sbb :
                                    OR = eks [bI]
Sedang batas-batas keyakinan OR dihitung dengan menggunakan koefesien regresi serta kesalahan baku,sbb :
                                    IK 95 % = eks [bI ±1,96 SE (Bi)]
Dalam analisis regresi ganda ini variabel yang diteliti memakai skala nominal dan ordinal, sehingga sebelum memulai analisis terlebih dahulu dibuat pengkodean nilai variabel sbb :
Tabel 4.1. PENGKODEAN VARIABEL
No
Variabel
Kriteria
Kode
Nilai
1.

2.

3.

4.



5.



6.





7.
Kekambuhan sakit malaria

Umur

Jenis kelamin

Kelelahan



Stress



Kebuiasaan





Status gizi


Kambuh (kasus)
Tidak kambuh (kontrol)
Muda
Tua
Laki-laki
Perempuan
Berat
Sedang
Ringan
Tidak lelah
Berat
Sedang
Ringan
Tidak stress
Tidak menggunakan kelambu dan diluar rumah malam hari
Tidak menggunakan kelambu atau berada diluar rumah malam hari
Menggunakan kelambu dan malam hari di rumah
Kurus
Normal
Gemuk
KSM

UR

Sex

Lelah



Stress



Biasa





Gizi


1
0
1
0
1
0
3
2
1
0
3
2
1
0
2

1

0

2
1
0

Selanjutnya analisis dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :
Dilakukan uji bivariat pada tiap-tiap variabel untuk menyarimng variabel yang mempunyai kemaknaan p<0,25.
Selanjutnya variabel yang mempunyai kemaknaan p < 0,25 pada uji bivariatdimasukkan secara bersama-sama di dalam model multivariate dengan menggunakan metode enter.
memeriksa adanya kemungkinan interaksi dari beberapa variabel yang bermakna p < 0,05 dalam uji multivariate tersebut.


BAB 5
HASIL PENELITIAN

5.1.     Analisa Deskriptif :
5.1.2. Gambaran Umum Subjek Penelitian
1.                  Kelompok umur penderita
Karakteristik penderita malaria berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

1.         Tabel 5.1

a.         Distribusi Subjek Penelitian Menurut Golongan Umur


Kel.Umur
Kel.Umur
Kel.Umur
Kel.Umur
0-11 tahun
12-17 tahun
18-55 tahun
> 56 tahun
 4 (12,9 %)
 5 (16,1 %)
 8 (25,8 %)
      14 (45,2 %)
5 (16,1 %)
9 ( 29,0 %)
10 (32,2 %)
7 (22,6 %)
9 (14,5 %)
14 (22,6 %)
18 (29,0 %)
21 (33,9 %)
Jumlah
31 (100 %)
31 (100 %)
62 (100 % )
Sumber : Data  Primer
Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh umur  dengan kekambuhan  penyakit malaria , maka golongan umur dikelompokkan dalam kelompok umur > 45 tahun dan kelompok umur < 45 tahun pada kasus dan kontrol.

2.         Tabel 5.2

b.         Distribusi Subjek Penelitian Menurut Golongan Umur


Kelompok umur
Kasus
Kontrol
Total
> 45 tahun
< 45 tahun
23 (74,6 %)
8 (25,3 %)
12 (39,2 %)
19 (66,8 %)
35 ( 56,3) %)
      27 (43,7 %)
Jumlah
31 (100 %)
31 (100 %)
62  (100 % )
Sumber : Data  Primer
Pada tabel tersebut diatas dapat diketahui bahwa umur > 45 tahun terbanyak pada kelompok kasus yaitu sebesar 74,6 %, dibanding dengan kelompok kontrol yaitu sebesar 39,2 %.
b.                  Jenis kelamin penderita
Faktor jenis kelamin hubungannya dengan kekambuhan sakit malaria dapat kita lihat pada tabel berikut :
Tabel 5.3
Distribusi Subjek Penelitian Menurut Jenis Kelamin
Dengan kejadian malaria

Jenis kelamin
Kasus
Kontrol
Total
Laki-laki
Perempuan
25 (79,7 %)
6 (20,3 %)
20 (63,8 %)
11 (36,2 %)
45 (72,1 %)
17 (28,8 %)
Jumlah
31  (100 %)
31 (100 %)
62 (100 % )
Sumber : Data  Primer
Pada tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa proporsi jenis kelamin laki-laki pada kelompok kasus lebih banyak (79,7 %) dibandingkan pada kelompok kontrol hanya (63,8 %)
c.                   Kelelahan
Faktor kelelahan  hubungannya dengan kekambuhan  sakit malaria dapat kita lihat pada tabel berikut :
Tabel 5.5

3.         Distribusi Subjek Penelitian Menurut

4.         Faktor kelelahan


Faktor Kelelahan
Kasus
Kontrol
Total
Ada
Tidak ada
26 (83,5 %)
        5  (16,5 %)
12 (39,2 %)
      19 (60,8 %)
38 (61,4) %)
24 (14,5 %)
Jumlah
       31 (100 %)
31 (100 %)
62  (100 % )
Sumber : Data  Primer
Pada tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa proporsi subjek yang lelah llebih banyak pada kelompok kasus  yaitu sebesar (83,5 %) jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu sebesar (39,2%).

d.                  Stress
Faktor stress hubungannya   dengan kekambuhan  penyakit malaria dapat kita lihat pada tabel sbb :
Tabel 5.4
Distribusi Subjek Penelitian Menurut Faktor Stress

Faktor stress
Kasus
Kontrol
Total
Ada
Tidak ada
29 (90,3 %)
3 (9,7  %)
13 (41,9 %)
18 (58,1 %)
41 (66,1 %)
21 (33,9 %)
Jumlah
      31 (100 %)
31 (100 %)
62 (100 % )
Sumber : Data  Primer
Pada tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa proporsi subjek yang mengalami stress  lebih banyak pada kelompok kasus yaitu sebesar (90,3 %) jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu sebesar (41,9 %).
e.                   Cara/kebiasaan  hidup
Faktor cara/kebiasaan hidup dengan kejadian sakit malaria dapat kita lihat pada tabel berikut :

5.         Tabel 5.6

Distribusi Subjek Penelitian Menurut
Cara/Kebiasaan Hidup

Cara/Kebiasaan hidup
Kasus
Kontrol
Total
Tidak menggunakan kelambu atau di luar rumah malam hari
Tidak menggunakan kelambu dan di luar rumah malam hari
Menggunakan kelambu dan di rumah malam hari
`12 (39,2 %)

11 (35,4) %)

  8 (25,3 %)
 6 (20,2 %)

 7 (21,5 %)

18 (58,2 %)
18  (29,7 %)

18 (28,5 %)

26 (41,7 %)
Jumlah
31 (100 %)
31 (100 %)
62 (100 % )
Sumber : Data  Primer
Pada tabel tersebut di atas menunjukkan  proporsi kebiasaan tidak menggunakan kelambu atau berada di luar rumah pada malam hari lebih banyak pada kelompok kasus yaitu sebesar (39,2 %) jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu sebesar (120,2 %).
f.                   Status Gizi
Faktor gizi  dengan kejadian penyakit malaria dapat kita lihat pada tabel sbb :
Tabel 5.4
Distribusi Subjek Penelitian Menurut Status Gizi

Status Gizi
Kasus
Kontrol
Total
Kurus
Normal
23 (77,2 %)
8 (22,8 %)
12 (32,9 %)
19 (67,1 %)
35 (59,9 %)
27 (43,0 %)
Jumlah
       31 (100 %)
31 (100 %)
62 (100 % )
Sumber : Data  Primer
Pada tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa proporsi subjek berada pada status gizi kurus lebih banyak pada kelompok kasus yaitu sebesar (77,7 %) jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu sebesar (32,9 %).
5.2.Analisis Bivariat
Analisis bivariat ini untuk mengetahui hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan  penyakit malaria untuk masing-masing variabel seperti :
5.2.1.      Hubungan faktor umur terhadap kekambuhan sakit malaria
Dari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor umur dengan kekambuhan sakit malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor umur dengan kekambuhan sakit malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0,006. Hasil pengolahan data tentang faktor umur penderita selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.7 berikut ini.



Tabel 5.7
Hubungan Faktor Umur  Penderita Malaria
Dengan Kekambuhan  Sakit Malaria

Variabel
Estimasi B
Sig
OR
95 % CI
Faktor jenis kelamin
0,829
0.160
2.292
0,722-7,277
Constan
-0,606
0,232
0.545


5.2.2. Hubungan faktor jenis kelamin dengan kekambuhan penyakit malaria
Dari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor jenis kelamin  dengan kekambuhan sakit  malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor jenis kelamin dengan kekambuhan sakit  malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0,006 dan nilai OR = 4,55. Hal ini berarti resiko kekambuhan sakit malaria pada jenis kelamin laki-laki sebesar 4,55 kali dibanding dengan jenis kelamin perempuan.
Hasil pengolahan data tentang jenis kelamin penderita selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.8 berikut ini.
Tabel 5.8
Hubungan Faktor Jenis Kelamin  Penderita Malaria Dengan
Kekambuhan  Sakit Malaria
Variabel
Estimasi B
Sig
OR
95 % CI
Faktor umur
1.516
0.006
4.552
1.544-13.424
Constan
-0.865
0.040
0.421


5.2.3.      Hubungan faktor kelelahan  terhadap kekambuhan  malaria
Dari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor kelelahan dengan kekambuhan  penyakit malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor kelelahan  dengan kejadian penyakit malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0, 001 dan nilai OR = 8,23. Hal ini berarti resiko sakit malaria pada kelompok yang mempunyai kelelahan ya   sebesar 8,23 kali dibanding dengan penderita yang tidak mengalami kelelahan.
Hasil pengolahan data tentang faktor kelelahan  pada penderita  malaria selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.9 berikut ini.
Tabel 5.9.
(1)      Hubungan Faktor Kelelahan Dengan Kekambuhan Sakit Malaria

Variabel
Estimasi B
Sig
OR
95 % CI
Faktor kelelahan
2,108
0,001
8,233
2,482-27,316
Constan
-1,335
0,008
0263


5.2.4.      Hubungan faktor stress dengan kekambuhan sakit malaria
Dari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor stress dengan kekambuhan  penyakit malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara stress dengan kekambuhan sakit malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0, 000 dan nilai OR = 12,91. Hal ini berarti resiko kekambuhan sakit malaria pada kelompok yang mengalami stress yaitu   sebesar 12,91 kali dibanding dengan penderita yang tidak mengalami stress.
Hasil pengolahan data tentang faktor stress pada penderita  malaria selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.10 berikut ini.
Tabel 5.10.
(2)      Hubungan Faktor Stress Dengan Kekambuhan Sakit Malaria
Variabel
Estimasi B
Sig
OR
95 % CI
Stress
2,558
0,000
12,916
3,226-51,742
Constan
-1,791
0,004
0,167


5.2.5.      Hubungan faktor kebiasaan dengan  kekambuhan sakit malaria
Dari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor kebiasaan penderita   dengan kekambuhan sakit malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor cara/kebiasaan penderita malaria yaitu kebiasaan tidak menggunakan kelambu dan berada diluar rumah pada malam hari  dengan kekambuhan sakit penyakit malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0, 002 dan nilai OR =4,5 bila demikian juga ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan tidak menggunakan kelambu atau berada diluar rumah pada malam hari  dengan kekambuhan sakit malaria dengan tingkat kemaknaan 0,050 dan nilai OR = 4,54. Hal ini berarti resiko sakit  malaria pada kelompok yang mempunyai kebiasaan tidak menggunakan kelambu dan berada diluar rumah pada malam hari  dengan kejadian penyakit malaria    sebesar 4,5 kali dibanding dengan penderita yang mempunyai kebiasaan menggunakan kelambu dan berada  di rumah pada malam hari  dengan kejadian penyakit malaria, demikian juga resiko sakit malaria pada penderita malaria yang mempunyai kebiasaan tidak menggunakan kelambu atau berada diluar rumah pada malam hari  dengan kekambuhan sakit malaria sebesar 3,54 kali dibanding dengan penderita yang mempunyai kebiasaan menggunakan kelambu dan berada di rumah pada malam hari  dengan kekambuhan sakit sakit malaria.
Hasil pengolahan data tentang cara/kebiasaan penderita malaria selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.11 berikut ini.
Tabel 5.11
Hubungan Faktor Kebiasaan  Dengan Kekambuhan  Sakit Malaria

Variabel
Estimasi B
Sig
OR
95 % CI
Cara/kebiasaan penderita
Tidak menggunakan kelambu dan di luar rumah malam hari (1)
Tidak menggunakan kelambu atau di luar rumah malam hari (2)

1,504

1,263

0,022

0,050

4,500

3,536

1,244-16,286

1,001-12,485


5.2.6.      Hubungan faktor status gizi dengan kekambuhan sakit malaria
Dari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor atatus gizi dengan kejadian penyakit malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara status gizi  dengan kekambuhan sakit malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0,001 dan nilai OR = 7,2. Hal ini berarti resiko sakit malaria pada kelompok  penderita kurus   sebesar 7,2 kali dibanding dengan penderita yang mempunyai status gizi normal.
Hasil pengolahan data tentang umur penderita selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.16 berikut ini.
Tabel 5.12
(3)      Hubungan Status Gizi Penderita Malaria Dengan Kekambuhan Sakit Malaria

Variabel
Estimasi B
Sig
OR
95 % CI
Status gizi penderita
1.974
0.001
7,200
2.327-22.279
Constan
-0.099
0.012
0.333



5.2.7.      Rangkuman hasil analisis hubungan masing-masing faktor resiko terhadap kejadian sakit malaria.

Pada penelitian ini dilakukan terlebih dahulu uji masing-masing faktor resiko yang disebut uji statistik bivariat dengan menggunakan uji regresi logistik. Hasilnya didapatkan variabel independen yang signifikan adalah 1)Jenis kelamin 2) Kelelahan 3) Stress 4) cara/kebiasaan hidup 5) status gizi, sedangkan umur didapat hasilnya tidak bermakna.
Adapun hasil analisis bivariate masing-masing variabel penelitian dengan cara analisis regresi logistik terhadap kejadian sakit malaria pada penderita adalah sbb :
Tabel 5.14 Rangkuman Hasil Uji Bivariate dari Masing-masing Variabel Penelitian Faktor Resiko Kejadian Sakit Malaria Pada Penderita Malaria

No
Variabel
Koefesien Regresi
Df
P
OR
CI 95%
1.
2.
3.
4.
5.

Umur
Jenis Kelamin
Kelelahan
Stress
Status Gizi
Cara/kebiasaan  hidup :
Cara (1)
Cara (2)
0,829
1,516
2,108
2,558
1,974

1,504
1,263
1
1
1
1
1
2
1
1
0,160
0,006
0,001
0,000
0,001
0,040
0.022
0,050
2,292
4,552
8,233
12,916
7,200

4.500
3,535
0,72-7,28
1,54-13,42
2,48-27,37
3,23-51,74
2,33-22,28

1,24-16,28
1,00-12,49

5.3.      ANALISA MULTIVARIATE
5.3.3.      Analisa Multivariate dari beberapa variabel yang signifikan (P<0,25) pada uji bivariate.

Analisa multivariate ini dilakukan untuk mengetahui hubungan beberapa variabel secara bersama-sama terhadap kejadian sakit malaria pada penderita malaria. Variabel yang dimaksud adalah variabel independen yang secara statistik mempunyai tingkat kemaknaan p < 0,25. Variabel independen tersebut adalah 1)Jenis kelamin, 2) Kelelahan 3) Stress 4) Kebiasaan 5) Status gizi. Hasil analisa multivariate tersebut selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.14 berikut ini.
Tabel. 5.14. HASIL ANALISA MULTIVARIATE VARIABEL INDEPENDEN TERHADAP KEJADIAN SAKIT MALARIA
PADA PENDERITA MALARIA

Variabel
B
Wald
Df
Sig
OR
                CI
95%






Lower
Upper
Umur
Jenis Kelamin
Kelelahan
Stress
Status Gizi
Cara  hidup :
Cara (1)
Cara (2)
-0,188
-1,034
2885
2,252
2,926

1,557
1,345
0,025
0,480
5,245
4,286
5,851
1,875
1,175
1,144
1
1
1
1
1
2
1
1
0,874
0,488
0,022
0,038
0,016
0,392
0,186
0,285
0,829
0,356
17,379
9,505
18,661

4,744
3,839
0,082
0,019
1,510
1,127
1,742

0,473
0,327
8,342
6,625
200,081
80,138
199,854

47,558
45,132
Dari seluruh variabel yang dianalisa secara bersama-sama dengan menggunakan analisis multivariate regresi logistik dengan metode enter tersebut, didapatkan bahwa variabel : 1) kelelahan 2) stress dan 3) status gizi, mempunyai pengaruh yang bermakna dalam kejadian sakit malaria pada penderita malaria (p<0,05), sedangkan variabel yang lain yaitu 1) umur, dan 2) kebiasaan hidup meskipun dalam analisa bivariate secara statistik bermakna namun dalam analisis multivariate ternyata mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap kejadian sakit malaria pada penderita malaria. Begitupula variabel jenis kelamin.

BAB 6
PEMBAHASAN

6.1.Deskriptif karakteristik penderita indeks dan anggota keluarga
Dari hasil penelitian tentang karakteristik penderita malaria sebagian besar menunjukkan penderita  berusia  produktif dan berjenis kelamin laki-laki.
6.2.            Hubungan variabel independen dengan kekambuhan sakit malaria pada penderita malaria.

Pada analisa bivariate di dapatkan bahwa variabel yang signifikan terhadap kejadian sakit malaria pada penderita malria adalah jenis kelamin, kelelahan, stress, kebiasaan dan status gizi. Namun dalam analisa multivariate hanya ada 3 variabel yang signifikan yaitu faktor kelelahan, faktor stress dan status gizi.
6.2.1.      Hubungan variabel jenis kelamin umur dengan kekambuhan sakit malaria pada penderita malaria.

Tentang peristiwa timbulnya penyakit menurut Gordon dan Le Richt pada tahun 1950 yang dikutip oleh Aswar A. (1999) menyebutkan bahwa timbulnya pada manusia dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu faktor pejamu (Host), faktor agent dan lingkungan. Yang dimaksud dengan Host adalah penderita malaria, agent adalah plasmodium berat ringannya penyakit infeksi akibat agent tersebut tergantung pada banyaknya kuman, virulensi dan patogenisisti dari hasil tersebut
Pada seseorang yang dibuktikan dengan pemeriksaan sedian darah tepi dengan mikroskop ditemukan plasmodium malaria disebut sebagai penderita malaria.
Dari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor jenis kelamin dengan kekambuhan sakit malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin  dengan kekambuhan sakit malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0,006 dan nilai OR = 4,55. Hal ini berarti resiko sakit malaria pada jenis kelamin laki-laki  sebesar 4,55 kali dibanding dengan penderita perempuan.
6.2.2.      Hubungan faktor kelelahan dengan kekambuhan sakit malaria
Dari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor kelelahan dengan kekambuhan sakit  malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor kelelahan dengan kekambuhan sakit malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0, 001 dan nilai OR = 8,23. Hal ini berarti resiko sakit malaria pada kelompok yang mengalami kelelahan   sebesar 8,23 kali dibanding dengan penderita yang tidak mengalami kelelahan.
6.2.3.      Hubungan faktor stress dengan kekambuhan sakit malaria

ari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor riwayat penyakit sebelumnya  dengan kejadian penyakit malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit malaria sebelumnya  dengan kejadian penyakit malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0, 000 dan nilai OR = 12,916. Hal ini berarti resiko kekambuhan sakit malaria pada kelompok yang mengalami stress sebesar 12,916 kali dibanding dengan penderita yang  tidak mengalami stress.
6.2.4.      Hubungan faktor status gizi dengan kekambuhan sakit malaria
Dari tabel 5.4 menunjukkan bahwa jumlah penderita malaria berstatus gizi kurus lebih banyak dibanding gizi normal, berarti kemungkinan untuk menderita penyakit malaria lebih besar pada kelompok gizi kurus dibanding normal. Hal ini kemungkinan disebabkan karena semakin rendah (kurus) status gizi, maka daya tahun tubuh semakin turun, sehingga kemungkinana terserang penyakit semakin besar.
Rendahnya status gizi kemungkinan disebabkan karena rendahnya pendapatan keluarga sehingga daya beli untuk kebutuhan pokok rendah, disamping itu tidak mampu membeli  kelambu, obat nyamuk, dsb.
Dari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor atatus gizi dengan kejadian penyakit malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara status gizi  dengan kejadian penyakit malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0,001 dan nilai OR = 7,2. Hal ini berarti resiko sakit malaria pada kelompok  penderita kurus   sebesar 7,2 kali disbanding dengan penderita yang mempunyai status gizi normal.
6.2.5.      Hubungan faktor kebiasaan dengan kekambuhan sakit malaria

Cara/kebiasaan sehat adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Salah satunya  perilaku sehat yang harus diciptakan adalah meningkatnya kemampuan setiap orang dan kepedulian masyarakat untuk mengatasi lingkungan yang terbebas dari penularan malaria merupakan salah satu tujuan dari Gerakan Berantas Kembali Malaria guna mencapai Indonesia sehat 2010 . (Departemen Kesehatan RI.,2000).
Tindakan atau kebiasaan yang didasari adanya pengetahuan dan sikap tentang penyakit malaria merupakan suatu bentuk perilaku sehat yang pasif dari responden, dari perilaku yang pasif tersebut diwujutkan dalam suatu tindakan nyata seperti menggunakan kelambu saat tidur dan menghindari keluar rumah pada malam hari adalah merupakan suatu bentuk perilaku aktif dari responden (Notoadmodjo S, 1993).
Menurut teori L. Green, seseorang berperilaku karena terbentuk dari 3 faktor dimana pengetahuan dan sikap merupakan faktor predisposisi, tersedia atau tidaknya fasilitas hidup sehat dalam keluarga merupakan faktor pendukung, sedang sikap dan perilaku petugas kesehatan sebagai faktor pendorong (Notoadmodjo S, 1993).
Dari hasil uji regresi logistik bivariat hubungan antara faktor riwayat penyakit sebelumnya  dengan kejadian penyakit malaria pada penderita malaria didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor cara/kebiasaan penderita malaria yaitu kebiasaan tidak menggunakan kelambu dan berada diluar rumah pada malam hari  dengan kejadian penyakit malaria dengan tingkat kemaknaan (p) sebesar 0, 002 dan nilai OR =4,5 bila demikian juga ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan tidak menggunakan kelambu atau berada diluar rumah pada malam hari  dengan kejadian penyakit malaria dengan tingkat kemaknaan 0,050 dan nilai OR = 3,54. Hal ini berarti resiko sakit  malaria pada kelompok yang mempunyai kebiasaan tidak menggunakan kelambu dan berada diluar rumah pada malam hari  dengan kejadian penyakit malaria    sebesar 4,5 kali dibanding dengan penderita yang mempunyai kebiasaan menggunakan kelambu dan berada  rumah pada malam hari  dengan kejadian penyakit malaria, demikian juga resiko sakit malaria pada penderita malaria yang mempunyai kebiasaan tidak menggunakan kelambu atau berada diluar rumah pada malam hari  dengan kejadian penyakit malaria sebesar 3,54 kali dibanding dengan penderita yang mempunyai kebiasaan menggunakan kelambu dan berada di rumah pada malam hari  dengan kejadian penyakit malaria.
Hal tersebut dikarenakan kemungkinan terpapar dengan nyamuk malaria lebih besar bagi mereka yang tidak menggunakan kelambu saat tidur dan berada di luar  rumah pada malam  hari.
6.3.            Probabilitas kejadian sakit malaria pada penderita malaria
Dari hasil analisis multivariate terdapat tiga variabel yang mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kekambuhan  sakit malaria pada penderita malaria. Faktor resiko tersebut adalah 1) kelelahan, 2) stress dan 3) status gizi.
6.4.            Prioritas perbaikan faktor resiko berdasarkankan besarnya odds ratio pada analisa multivariate.

1.                  Faktor  kelelahan , maka bagi mereka yang pernah menderita malaria sebaiknya diberi penyuluhan agar tidak bekerja terlalu berat atau waktu untuk beistirahat harus diperhatikan..
2.                  Faktor stress, maka bagi mereka yang pernah menderita malaria diberi penyuluhan agar mereka menghindari stress dalam kehidupan sehari-harinya.
3.                  Faktor status gizi penderita malaria, maka perlu dilakukan peningkatan status gizi keluarga melalui : 1) pemberdayaan ekonomi masyarakat misalnya pemanfaatan lahan pekarangan untuk perkebunan dan perikanan, 2) penyuluhan gizi, 3) peningkatan pendapatan keluarga untuk meningkatkan daya beli keluarga
4.                  Faktor lain yang tidak terbukti ada hubungan dengan kejadian sakit malaria pada penderita juga perlu diperhatikan seperti cara/kebiasaan hidup.
6.5.            Kelemahan penelitian
Kelemahan dari penelitian ini adalah :
1.                  Terjadinya bias informasi, karena data faktor resiko di kumpulkan setelah terjadimnya sakit malaria.
2.                  Terjadinya bias seleksi, karena sampel terdiri dari dua populasi yang berbeda (kasus dan kontrol).

BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1.      Kesimpulan :
7.1.1.      Faktor umur tidak terbukti ada hubungannya dengan kekambuhan sakit malaria pada penderita malaria.
7.1.2.      Faktor jenis kelamin terbukti ada hubungannya dengan kekambuhan sakit malaria padaa penderita malaria, akan tetapi jika bersama variabel lain tidak terbukti adanya hubungan..
7.1.3.      Faktor kelelahan terbukti ada hubungannya dengan kekambuhan sakit malaria pada penderita malaria baik secaral sendiri maupun secara bersama-sama.
7.1.4.      Faktor stress terbukti ada hubungannya dengan kekambuhan  sakit malaria pada penderita malaria baik secara sendiri maupun secara bersama-sama.
7.1.5.      Faktor kebiasaan terbukti ada hubungannya dengan kekambuhan sakit malaria padaa penderita malaria, akan tetapi jika bersama variabel lain tidak terbukti adanya hubungan
7.1.6.      Faktor status gizi terbukti ada hubungannya dengan kejadian sakit malaria pada penderita malaria baik secar sendiri maupun secara bersama-sama.
7.2.          Saran
7.2.1.      Untuk mencegah kekambuhan  sakit malaria pada penderita malaria karenakelelahan, stress dilakukan penyuluhan agar sedapat mungkin mereka tidak sampai pada keadaan kelelahan dan stress, sedangkan pada status gizi yang rendah maka diperlukan peningkatan status gizi keluarga melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat secara lintas sector.
7.2.2.      Faktor lain seperti jenis kelamin cara atau  kebiasaan hidup yang tidak terbukti ada hubungan dengan kejadian penyakit malaria, perlu dilakukan penyuluhan agar sedapat mungkin menghindarkan hal-hal yang dapat membuat mereka kambuh dari penyakit malaria.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar