Jumat, 23 September 2011

OBAT YANG TIDAK BOLEH DIBERIKAN KEPADA IBU MENYUSUI



     Kadangkala ibu yang sedang menyusui memerlukan obat. Yang selalu dipertanyakan adalah apakah obat ini akan mempengaruhi bayi yang sedang menyusui?
Hampir semua obat yang dikonsumsi ibu menyusui akan dikeluarkan juga melalui ASI, dalam kadar rendah atau tinggi, sehingga obat tersebut dapat masuk ketubuh bayi.
 Untuk ini kita perlu mengetahui tentang obat apa yang tidak boleh diberikan, obat apa yang dapat diberikan tetapi dengan hati-hati dan obat apa yang boleh diberikan kepada ibu yang sedang menyusui.
Pengaruh obat yang diminum ibu terhadap bayi tergantung dari:

1. Faktor obat

* Berat molekul obat (BM), makin besar BM makin sukar terdapat di dalam ASI (misal Insulin karena BM>200 tidak terdapat di dalam ASI.
* Obat yang bersifat basa lebih mudah terdapat di dalam ASI (ASI lebih bersifat asam dari pada plasma pH ASI 7.0-7.4)
* Masa paruh obat. Makin lama masa paruh obat makin lama berada di dalam tubuh.
* Rasio obat di dalam ASI dibandingkan dengan di dalam plasma (M/P/ratio).
Bila M/ P ratio tinggi berarti kadar obat di dalam ASI lebih besar.

2. Faktor ibu

* Cara pemberian, oral, topikal, inhalasi, IM atau IV.
* Kesehatan ibu, misalnya bila ada gangguan fungsi ginjal atau hati maka ekskresi beberapa obat akan terhambat dan akan berada lebih lama di dalam ASI
* Alergi, beberapa bayi misalnya alergi terhadap obat yang diberikan kepada ibu.

3. Faktor bayi:

* Masa gestasi bayi
* Usia kronologis
* Frekuensi menyusu
* Jumlah ASI yang dikonsumsi

Apabila ingin memberi obat kepada ibu yang sedang menyusui pertimbangkan faktor-faktor di atas.

Panduan untuk memberikan obat-obatan kepada ibu yang menyusui:
* Gunakan obat hanya kalau memang diperlukan. Pertimbangkan obat alternatif bila ada
* Bila mungkin tunda pemberian obat sampai bayi lebih matur sehingga mampu mendetoksifikasi atau memetabolisir obat yang melalui ASI
* Berikan dosis terkecil yang efektif dan untuk waktu yang sesingkat mungkin
* Pilih obat yang kadar di dalam ASI lebih rendah dari kadar di dalam plasma. Rasio ASI/Plasma kurang dari 1
* Hindari obat dengan masa paruh panjang
* Hindari obat yang time-released
* Jadwalkan pemberian obat misalkan segera setelah menyusui atau sebelum waktu tidur panjang bayi sehingga kadar obat di dalam ASI paling rendah pada saat menyusu
* Perhatikan gejala reaksi obat pada bayi seperti kolik, kemerahan pada kulit, kegelisahan, sukar tidur, malas minum dan sebagainya.
* Ajarkan cara memeras ASI bagi ibu yang dapat meneruskan pemberian ASI setelah pengobatan selesai.

Obat-obatan yang dikonsumsi ibu yang menyusui digolongkan pada:

* Yang terkontraindikasi. Jadi bila ibu memerlukan obat tersebut dan tidak ada alternatif lain maka ibu harus menghentikan menyusui
* Obat yang perlu dihentikan selama pemberian obat. Selama obat itu masih berpengaruh. Misalnya zat radioaktif
* Obat yang dianjurkan untuk tidak diberikan kepada ibu karena mungkin berakibat kurang baik kepada bayi.


1. Obat yang dikontraindikasi untuk diberikan kepada ibu yang menyusui
Nama obat
Alasan
Bromocriptine
Menekan laktasi, dapat berbahaya bagi ibu
Cocaine
Intoksikasi
Heroin
Tremor, gelisah, muntah, kesulitan minum
Nicotine (merokok)
Muntah, diare, gelisah, menekan produksi ASI
Amphetamine
Gelisah, sukar tidur
Cyclophosphamide
Neutropenia, menekan daya tahan
Cyclosporine
Menekan daya tahan
Methotrexate
Menekan daya tahan
Ergotamine
Muntah, diare, kejang
Phenindione
Meningkatkan masa protrombin
Phencyclidine
Halusinasi
Lithium
Kadar tinggi di dalam ASI

2. Zat radioaktif yang memerlukan penghentian pemberian ASI untuk sementara
Nama zat
Waktu penghentian pemberian ASI yang dianjurkan
Cuprum
Radioaktivitas masih terdapat di dalam ASI setelah 50 jam
Gallium
Radioaktivitas masih terdapat di dalam ASI setelah 2 minggu
Indium
Pada 20 jam terdapat sangat sedikit di dalam ASI
Iodine
Radioaktivitas masih terdapat di dalam ASI sampai 36 jam
Iodine
Radioaktivitasnya terdapat di dalam ASI selama 12 hari
Iodine
Radioaktivitasnya terdapat dalam ASI selama 14 hari


Apabila ibu memerlukan pemeriksaan menggunakan zat radioaktif, maka ASI sementara tidak diberikan kepada bayi, walaupun tetap harus dikeluarkan (dibuang) agar produksi ASI jangan terhenti.

Lama penghentian menyusui tergantung dari masa paruh obat. Dianjurkan untuk menghentikan penyusuan selama 5 kali masa paruh.










3. Obat-obatan yang pemberiannya perlu berhati-hati karena mungkin mempunyai efek terhadap bayi
Nama Obat
Alasan
Chlorpromazine
Letargi dan rasa kantuk
Chloramphenicol
Supresi sumsum tulang
Metronidazole
In vitro adalah mutagen; bila ibu memerlukan hanya dosis tunggal, pemberian ASI dapat dilanjutkan setelah 24 jam
Salicylate
Asidosis metabolic
Phenobarbital
Sedasi, methemoglobinemia
Primidone
Sedasi, masalah minum
Caffeine (bila berlebihan)
Iritabel, sulit tidur
Pil kontrasepsi yang mengandung estrogen
Mengurangi jumlah ASI dan kandungan proteinnya
Dexbrompheniramine maleate
Banyak menangis, iritabel, kurang tidur
Indomethacin
Kejang
Yodium
Mengganggu keaktifan kelenjar tiroid
Povidon iodine
Bau yodium pada kulit bayi
Nalidixic acid
Hemolisis pada bayi dengan defisiensi enzim G-6-PD
Nitrofurantoin
Hemolisis pada bayi dengan defisiensi enzim G-6-PD
Phenytoin
Methemoglobinemia
Golongan Sulfa
Adalah “bilirubin displacer”  Ikterus
Tolbutamide
Ikterus
ibu menyusui sedapat mungkin hanya mengonsumsi obat yang esensial, obat yang menurut dokter benar-benar diperlukan untuk menyembuhkan penyakit yang serius. Artinya, hindari minum obat untuk penyakit yang ringan, misalnya pegel linu, batuk bersin, diare yang hanya 2-3 kali sehari dan sebagainya. Jamu dan vitamin yang tidak amat diperlukan juga dihindari. Sebaliknya, kalau sakitnya dapat membahayakan, harus minum obat yang diresepkan dokter, misalnya bila terbukti sakit demam typhoid.





Beberapa obat yang sering kita pakai yang perlu dihindari pemakaiannya selama menyusui antara lain obat antihistamin atau obat anti alergi misalnya prometasin, difenhidramin, dan dexklorfeniramin. Obat-obat ini bisa menyebabkan bayi yang disusui menjadi gelisah. Obat migren semacam ergot juga tidak boleh diminum. Obat ini selain mempunyai efek samping untuk bayi, juga mengurangi jumlah ASI.

Kelompok obat tidur dan obat penenang yang harus dihindari antara lain barbiturat (luminal), bensodiasepin, dan meprobamat. Demikian pula obat antimuntah ondansetron dan obat untuk penyakit gout yakni kolkisin.
Aspirin juga perlu dihindari, karena dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah, fungsi trombosit terganggu dan kadar salah satu faktor pembekuan darah yang disebut prothrombin bisa berkurang.

Semua obat hormon jangan diminum selama menyusui, khususnya hormon androgen, karena dapat menyebabkan maskulinisasi bayi wanita atau pubertas dini pada bayi laki-laki dan mengurangi jumlah ASI. Danasol dan estrogen (termasuk pil KB) juga perlu dihindari.

Antibiotik, juga sedapat mungkin tidak diminum, kecuali untuk yang amat mutlak diperlukan. Beberapa antibiotik yang perlu dihindari antara lain: tetrasiklin (menghambat pertumbuhan tulang, mewarnai gigi), kloramfenikol (menekan sumsum tulang bayi), klindamisin, metronidasol, sulfonamid, dan kotrimoksasol (anemia hemolitik, mata kuning). Beberapa vitamin dalam dosis yang tinggi seperti vitamin A, D, dan B6 juga sebaiknya dihindari.

Beberapa jenis obat yang sering kita pakai yang perlu dihindari selama menyusui adalah :
- Obat anti-alegi atau antihistamin, misalnya promethasin, difenhidramin, dan
dexklorfeniramin.
Obat2 ini bisa menyebabkan bayi yang sedang disusui menjadi gelisah.
Obat migren , semacam ergot.
Obat ini kecuali mempunyai effek pada bayi, juga mengurangi jumlah ASI.
-Obat tidur dan obat penenang,
Yang harus dihindari adalah semacam barbiturate (luminal), bensodiazepin
(valium), dan meprobamate.
Obat anti muntah : ondansetron
-Obat gout (sakit persendian) : kolkisin.
Aspirin juga perlu dihindari karena dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah, mengganggu fungsi trombosit dan mengurangi prothrombin (salah satu
faktor pembekuan darah).
-Hormon
Semua jenis hormon jangan diminum selama menyusui, terutama hormon
androgen, karena dapat menyebabkan maskulinisasi pada bayi wanita dan
pubertas dini pada bayi laki-laki, dan juga mengurangi jumlah ASI. Danasol dan
estrogen (termasuk pil KB) juga perlu dihindari.
 -Antibiotik .
Beberapa jenis antibiotik juga perlu dihindari , antara lain tetrasiklin  (menghambat pertumbuhan tulang dan mewarnai gigi), kloramfenicol (menekan sumsum tulang bayi), klindamisin, metronidazol, sulfonamide dan kotrimoksasol (menyebabkan anaemia hemolitik dan mata jadi kuning).
Beberapa jenis vitamin dalam dosis terlalu tinggi juga sebaiknya dihindari
Sebenarnya bukan saja obat2an, tapi apa saja yang dimakan ibu menyusui akan masuk melalui ASI ketubuh bayi, jadi hati2lah dengan apa yang dimakan.
Hindari mengkonsumsi makanan dari laut (sea-food) oleh karena sudah sangat terkontaminasi dengan merkuri dan logam berat lainnya.

Dapat disimpulkan, sebaiknya tidak minum obat atau jamu atau vitamin bila tidak amat memerlukan. Minum obat hanya dari resep dokter. Upayakan gaya hidup yang sehat, yaitu selalu mengonsumsi sayur dan buah, masing-masing tiga kali sehari, olahraga teratur atau berjalan cepat 30 menit setiap hari, tidur yang cukup.







REFERENSI

- Dr. Melly Budhiman, SpKJ
April 2007
- (cfs/merckmanual/aap.org/medphram.co.za)
AnzieGIE Blog

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar